Makalah
Kelompok VII
TASAWUF AKHLAKI
(Studi Pemikiran
Al-Ghazali dan Al-Qusyairi)
Disusun untuk
memenuhi salah satu tugas
Mata
Kuliah: Akhlak Tasawuf
Dosen:
Dr. Khairil Anwar, M.Ag
![]() |
Disusun Oleh :
Rudi
Perdana
1402110432
Achmad
Rifai
1402110442
Akhyannor
1402110455
PRODI AL-AHWAL ASY-SYAKSIYAH
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PALANGKA RAYA
TRANSLITERASI
Kata transliterasi berasal dari
kosa kata bahasa Inggris transliteration,
yaitu trans yang berarti pindah,
alih, ganti dan literation yang
berarti liter, huruf. Jadi, bisa disimpulkan bahwa transliterasi huruf
Arab-Latin adalah pergantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad
yang lain.
1.
Konsonan
Fonen konsonan bahasa Arab yang
dalam sistem tulisan arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini
sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda dan
sebagian lain lagi dengan huruf dan tanda sekaligus.
No
|
Huruf Arab
|
Huruf Latin
|
No
|
Huruf Arab
|
Huruf Latin
|
1
|
ا
|
Alif
|
16
|
ط
|
th
|
2
|
ب
|
B
|
17
|
ظ
|
zh
|
3
|
ت
|
T
|
18
|
ع
|
‘a
|
4
|
ث
|
Ts
|
19
|
غ
|
gh
|
5
|
ج
|
J
|
20
|
ف
|
f
|
6
|
ح
|
H
|
21
|
ﻕ
|
q
|
7
|
خ
|
Kh
|
22
|
ك
|
k
|
8
|
د
|
D
|
23
|
ل
|
l
|
9
|
ذ
|
Dz
|
24
|
م
|
m
|
10
|
ر
|
R
|
25
|
ن
|
n
|
11
|
ز
|
Z
|
26
|
و
|
w
|
12
|
س
|
S
|
27
|
ه
|
h
|
13
|
ش
|
Sy
|
28
|
ء
|
‘
|
14
|
ص
|
Sh
|
29
|
ي
|
y
|
15
|
ض
|
Dh
|
|
|
|
2.
Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal
bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap
(diftong), serta vokal panjang (madd).
a. Vokal tunggal (monoftong)
No
|
Huruf Arab
|
Huruf Latin
|
Keterangan
|
1
|
َ
|
A
|
Fathah
|
2
|
ِ
|
I
|
Kasrah
|
3
|
ُ
|
U
|
dammah
|
b. Vokal rangkap (diftong)
No
|
Huruf Arab
|
Huruf Latin
|
Keterangan
|
1
|
ى------
|
Ai
|
A dengan i
|
2
|
و-------
|
Au
|
A dengan u
|
c. Vokal panjang (madd)
No
|
Huruf Arab
|
Huruf Latin
|
Keterangan
|
1
|
ﻴا
|
Â
|
A dengan topi diatas
|
2
|
ﻱ
|
Î
|
I dengan topi diatas
|
3
|
ىو
|
Û
|
U dengan topi diatas
|
KATA PENGANTAR
Assalamuailaikum.
Wr. Wb
Segala puji bagi Allah yang telah
menurunkan Al-Quran kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Kitab yang ditujukan sebagai
pedoman dan ilmu pengetahuan bagi hamba-Nya. Allah yang telah memberikan nikmat
yang begitu banyak, dan tidak akan mungkin dihitung oleh makhluk-Nya. Allah
juga berjanji akan menambah nikmat-Nya bagi siapa saja yang mau mensyukuri.
Dalam rangka mensyukuri nikmat tersebut, kami berusaha menyelesaikan penulisan
makalah dengan judul “TASAWUF AKHLAKI (Studi Pemikiran Al-Ghazali dan
Al-Qusyairi)”. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan sehingga
makalah ini dapat hadir ditengah-tengah kita.
Dapat diselesaikannya makalah ini tidak terlepas dari
semua pihak yang telah mendedikasikan baik berupa moral maupun material.
Terutama kepada:
1.
Bapak Dr. Khairil Anwar, M.Ag, selaku pengampu mata
kuliah Akhlak Tasawuf yang tidak henti-hentinya memberikan bimbingan.
2.
Rekan-rekan semua yang terus mendukung kami dan
memberikan motivasi demi terselesainya makalah ini.
Untuk itu, sudah sepantasnya kami mengucapkan terima
kasih yang tak terhingga. Semoga apa yang saudara berikan oleh Allah dinilai
sebagai amal ibadah yang akan memberatkan timbangan kebaikan di akhirat. Amin.
Akhirnya, terlepas dari banyaknya kekurangan yang
terdapat dalam makalah ini, kami selaku penulis berharap hal ini dapat
memberikan manfaat khususnya pada diri kami dan para pecinta pengetahuan pada
umumnya.
Wassalamualaikum.
Wr. Wb
Palangka
Raya, Februari 2015
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
B. Ajaran Tasawuf Al-Qusyairi………………………………………………...8
BAB III PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN
Ajaran agama kerapkali salah dipahami oleh pemeluknya. Tidak terkecuali
dengan Islam, paham sekulerisme yang memandang akhirat dan dunia tidak ada
hubungannya tentu sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Pahala
yang diyakini oleh mereka hanya bisa didapat di Masjid, Musholla, Pesantren, dan
tempat-tempat yang semisal dengan itu. Sementara dilain sisi sebagian yang lain
beranggapan bahwa ketika mencari dunia tidak akan berakibat di akhirat.
Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan hal itu menjadi sebab maraknya
korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, dan masih banyak lainnya.[1] Masalah moral yang begitu
menghawatirkan dan jika dibiarkan akan mengakibatkan kerusakan yang menuntut
adanya sebuah solusi.
Dalam hal ini, Akhlak Tasawuf yang berbicara tentang mental spiritual dan
juga akhlak yang mulia sangat cocok menjadi solusi pemecahan masalah.
Setidaknya, Islam juga menghendaki yang demikian. Nabi Muhammad yang diutus
oleh Allah untuk seluruh alam dengan membawa misi penyempurnaan Akhlak.
انما بعثت لأتمم مكا
رم الأخلاق(روه احمد)
“Bahwasanya aku (Muhammad) diutus
untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti.(H.R. Ahmad)”[2]
Dalam
sejarah mencatat, bahwa salah satu faktor dalam keberhasilan dakwah nabi
Muhammad tidak lain karena ditunjang oleh akhlak yang mulia. Sehingga, sebagai
seorang muslim tentu diwajibkan menjadikan nabi Muhammad sebagai suri tauladan[3]. Sebagaimana yang terdapat
dalam Al-Quran:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_öt ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sur ©!$# #ZÏVx. ÇËÊÈ
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(Q.S. Al-Ahzab/33:21)[4]
Dilain
sisi, Allah juga melarang hambanya untuk melupakan kehidupan di dunia. Karena
sejatinya dunia merupakan ladang pahala bagi orang-orang yang bijak.
Selain
faktor tersebut, keberadaaan Akhlak Tasawuf yang hingga kini tetap eksis tidak
terlepas dari para tokoh tasawuf itu sendiri. Untuk itu, dalam penulisan makalah
ini kami berusaha menyajikan dua tokoh dalam tasawuf yaitu, Al-Ghazali dan
Al-Qusyairi. Harapannya, hal itu dapat menambah khazanah keilmuan sehingga
kedepannya dapat di implementasikan dalam kehidupan. Dengan kata lain dapat
dijadikan pembelajaran dan solusi bagi orang-orang sesudahnya. Amin.
Berdasarkan
latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.
Bagaimana ajaran Akhlak Tasawuf Al-Ghazali?
2.
Bagaimana ajaran Akhlak Tasawuf Al-Qusyairi?
3.
Bagaimana perbandingan antara Akhlak Tasawuf
Al-Ghazali dan Al-Qusyairi?
4.
Bagaimana relevansi Akhlak Tasawuf Al-Ghazali dan
Al-Qusyairi dengan zaman sekarang?
C. Tujuan
Penulisan
Penulisan
makalah ini,selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Akhlak
Tasawuf lebih lanjut bertujuan untuk menambah wawasan keislaman tentang:
1.
Ajaran Akhlak Tasawuf Al-Ghaazali,
2.
Ajaran Akhlak Tasawuf Al-Qusyairi,
3.
Perbandingan antara ajaran Akhlak Tasawuf Al-Ghazali
dan Al-Qusyairi,
4.
Relevansi kedua ajaran Akhlak Tasawuf dengan zaman
sekarang.
D. Batasan
Masalah
Mengingat
terlalu luasnya pembahasan Akhlak Tasawuf, sehingga menurut kami perlu adanya
pembatasan masalah. Hal ini bertujuan agar yang menjadi pokok permasalahan
dapat diuraikan lebih mendalam. Adapun yang menjadi batasan masalah dalam
makalah ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan rumusan masalah di atas.
Dalam
penulisan makalah ini, metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka (Library
search) dan penelusuran internet (Web search).
BAB II
PEMBAHASAN
Imam
al-Ghazali yang mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin
Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali yang lahir di kota Thusi pada abad ke 5 H.[5] Beliau
lebih dikenal dengan Hujjatul Islam[6].
Sementara nama Ghazali menurut pendapat yang paling unggul merupakan nama
yang dinisbatkan pada suatu wilayah di dataran Thusi[7]. Beliau
merupakan salah satu ulama yang produktif dalam berkarya, di antaranya:
a.
Ihya’ Ulumuddin,
b.
Tahafut al-Falasifah,
c.
Al-Basith,
d.
Al-Wasith,
e.
Dan lain-lain.
Beliau
meninggal pada hari Senin, tanggal 14, bulan Jumadil Akhir, tahun 505 H.[8]
Tasawuf
Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak, mencari hakikat
kebenaran yang mewujudkan manusia yang dapat ma’rifah kepada Allah, dengan
metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut
juga dengan istilah tasawuf sunni, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya
dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ‘Ulama Salaf
As-Salih.[9] Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang untuk mendekatkan
kepada tuhannya, Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Imam Al-Ghazali membagi maqamat dalam beberapa tahap, yaitu:
a. Tobat (At-Taubah)
Tobat berasal dari bahasa Arab tâba- yatûbu- taubatan, yang mempunyai
arti menyesal atas perbuatan dosa.[10] Menurut imam Al-Ghazali
tobat berarti penyesalan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud:
الندم توبة
“Artinya: Tobat adalah penyesalan”[11]
Lebih lanjut, Al-Ghazali berpendapat bahwa tobat
merupakan permulaan jalan bagi orang-orang yang hendak mendekatkan diri kepada
Allah dan kunci kelurusan bagi tegaknya orang-orang yang cenderung kepada
hal-hal yang syubhat. Sebagaimana ungkapan beliau dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin yang diterjemahkan oleh Ismail Yakub:
“Sesungguhnya nabi Adam a.s. telah mengetuk gigi penyesalan (menyatakan
penyesalannya). Ia sangat menyesal atas apa yang telah diperbuatnya dahulu dan
telah berlalu itu. Maka siapa yang mengambilnya menjadi ikutan pada dosa, tanpa
taubat, niscaya dengan yang demikian, telah tergilincir tapak kakinya. Akan
tetapi, menjurus kepada semata-mata kebajikan, adalah sifat para malaikat yang
mendekatkan diri kepada Allah (Al-Muqarrabin). Dan menjurus kepada kejahatan,
tanpa kembali kepada kebaikan adalah sifat setan-setan. Dan kembali kepada
kebajikan sesudah jatuh dalam kejahatan, adalah perlu (penting) bagi para anak
Adam.”[12]
b.
Sabar (Al-Shabr)
Al-Ghazali membagi sabar menjadi dua yaitu
sabar yang berkaitan dengan fisik dan sabar yang terpuji dan sempurna. Menurutnya
yang dimaksud sabar yang berkaitan dengan fisik adalah ketabahan dan ketegaran
memikul beban dengan badan. Contoh kesabaran yang seperti ini adalah melakukan
pekerjaan yang berat berupa ibadah , menahan penyakit, atau ketabahan menahan
pukulan.[13]
Sedang sabar yang terpuji dan sempurna ialah kemampuan jiwa untuk menahan diri
dalam berbagai keinginan tabiat atau hawa nafsu.[14]
c. Kefakiran (Al-Faqr)
Al-Ghazali
mengartikan kefakiran sebagai ketidakmampuan seseorang atau sesuatu mendapatkan
apa yang dibutuhkan. Maka dalam arti ini, seluruh wujud selain Allah adalah
fakir. Karena sejatinya segala sesuatu yang jauh dari kata sempurna
(Makhluk-Nya) itu membutuhkan yang lain yang Maha Sempurna (Allah).
d. Zuhud (Az-Zuhd)
Zuhud menurut
Ghazali adalah suatu sikap atau keadaan jiwa yang tidak adanya perbedaan antara
kemiskinan dan kekayaan. Al-Ghazali menyebut tiga tanda seseorang memiliki
sifat zuhud yaitu:
1)
Tidak bergembira dengan yang ada dan tidak bersedih dengan sesuatu yang
tidak ada,
2)
Sama saja baginya orang yang mencela dan memujinya. Hal itu tidak akan
mempengaruhi dalam beribadah,
3) Hendaknya ia bersama
Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan dan cinta
Allah.[15]
e.
Tawakal
(Al-Tawakkal)
Tawakal dalam
hal ini adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Al-Ghazali membagi
tawakal kedalam tiga tingkatan sebagaimana dikutip Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya
“Menyelami Lubuk Tasawuf”:
“…(1) Keadaan
menyangkut hak Allah dan keyakinannya kepada jaminan dan perhatian-Nya adalah
seperti keyakinannya kepada wakil. (2) yang lebih kuat, yaitu keadaannya
bersama Allah adalah seperti keadaan anak kecil bersama ibunya, di mana ia
tidak mengenal yang lainnya, dan tidak bersandar kecuali kepadanya. (3) keadaan
tawakal yang paling tinggi, yaitu hendaknya ia berada di hadapan Allah dalam
semua gerak dan diamnya, seperti mayat yang ada di tangan orang yang
memandikannya.”[16]
f.
Cinta Ilahi (Mahabbah)
Dalam maqamat ini,
Al-Ghazali mengatakan bahwa seorang yang mencintai sesuatu tanpa didasari cinta
kepada Allah adalah kebodohan dan kurangnya mengenal Allah.[17]
Dalam Al-Quran surat Al-Anfal ayat 2, Allah berfirman:
ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq7Åsè? ©!$# ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósã ª!$# öÏÿøótur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRè 3 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÊÈ
“Artinya: Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (Q.S. Al-Anfal/8:2)[18]
g. Rida (ar-Ridha)
Al-Ghazali
menyebut sifat rida maqam terakhir. Rida menurutnya sangat erat
hubungannya dengan cinta. Kalau cinta kepada Allah sudah tertanam pada diri
seseorang, maka cinta tersebut akan menimbulkan sifat rida atau senang atas
semua perbuatan Tuhan.[19]
Tentang rida, terdapat dalam Al-Quran salah satunya surah Al-Maidah ayat 119:
zÓÅ̧... ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊuur çm÷Ztã 4 y7Ï9ºs ãöqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÊÒÈ
“Artinya: Allah ridha terhadapNya[20]Itulah
keberuntungan yang paling besar.(Q.S. Al-Maidah/5:119)[21]
Al-Qusyairi yang mempunyai nama lengkap Abdul Karim Ibn
Hawazin Ibn Abdul Malik Ibn Thalhah Ibn Muhammad merupakan salah satu ulama
yang lahir di Qusyair.[22]
Sehingga nama Al-Qusyairi dinisbatkan ke daerah tempatnya di lahirkan. Menurut
beberapa pendapat Al-Qusyairi mempunyai banyak laqob[23] di
antaranya:
a.
As-Syafi’i
b.
An-Naisaburi
c.
Al-Istiwa’i[24]
Ulama ini menguasai beberapa bidang keilmuan
diantaranya, Tasawuf, Fiqih, Ushul Al-Din, dan lain-lain. Beliau wafat pada
tahun 465 H/ 1073 M dalam usia 87 tahun.
Dalam pembahasan ini, ajaran tasawuf akhlaki yang kami
maksud adalah yang berkenaan dengan maqamat[25] sebagaimana di atas. Imam
Al-Qusyairi membagi maqamat itu dalam
beberapa tingkatan, yaitu:
a.
Tobat (At-Taubah)
Al-Qusyairi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan
tobat adalah kembali. Artinya, kembali dari sesuatu yang dicela oleh syari’at
menuju sesuatu yang terpuji menurut syari’at atau yang diridhoi oleh-Nya.[26] Banyak dalil yang menganjurkan hamba untuk
bertobat salah satunya ayat Al-Quran berikut ini:
... (#þqç/qè?ur n<Î) «!$# $·èÏHsd tmr& cqãZÏB÷sßJø9$# ÷/ä3ª=yès9 cqßsÎ=øÿè? ÇÌÊÈ
“Artinya:...dan bertaubatlah kamu
sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(Q.S. An-Nur/24: 31)[27]
Syarat
sebuah tobat untuk bisa diterima oleh Allah menurut Al-Qusyairi adalah
menyesali pelanggaran yang telah dilakukan, meninggalkan dan berupaya tidak
mengulangi pelanggaran itu.
b.
Al-Wara’
Al-Wara’ menurut bahasa berarti menjauhkan diri dari
dosa, maksiat dan perkara syubhat.[28] Lebih lanjut, menurut Al-Qusyairi arti
wara' sebagaimana yang beliau kutip dari gurunya:
“Abu
‘Ali Daqqaq, adalah “meninggalkan apa pun yang syubhat.” Atau seperti yang dikatakan
Ibrahim ibn Adham, yaitu “meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala
sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan.”[29]
c.
Zuhud (Az-Zuhud)
Zuhud merupakan salah satu ajaran yang penting dalam
rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pendapat Al-Qusyairi yang dikutip oleh
Abuddin Nata menyatakan:
“...bahwa di antara para ulama berbeda pendapat dalam
mengartikan zuhud. Sebagian ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah orang yang
zuhud di dalam masalah yang haram, karena yang halal adalah sesuatu yang mubah
dalam pandangan Allah, yaitu orang yang diberikan nikmat berupa harta yang
halal, kemudian ia bersyukur dan meninggalkan dunia itu dengan kesadarannya
sendiri. Sebagian ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah zuhud dalam yang
haram sebagai suatu kewajiban.”[30]
d. Tawakal (Al-Tawakkal)
Tentang
tawakal, Al-Qusyairi mengutip ayat Al-Quran
surat At-Thallaq ayat 3:
... `tBur ö@©.uqtGt n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym ..4.
“Artinya: ...dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan (keperluan)nya....”(Q.S. At-Thallaq/65:3)[31]
Abu Nashr Al-Sarraj
berkata, “Keadaan bertawakal kepada Allah adalah mengabdikan jasad untuk
beribadah, mengaitkan hati kepada Allah dan bersikap tenang dalam mencari
kebutuhan. Kalau diberi, ia bersyukur, jika tidak, ia tetap bersabar. Menurut
Abu Sahl bin ‘Abdillah, tawakal adalah “menyerahkan diri kepada Allah dalam apa
pun yang dikehendaki oleh-Nya.” Menurut al-Qusyairi, tempat tawakal adalah
hati, sedangkan gerakan lahiriah tidak menanggalkan tawakal dalam hati manakala
si hamba telah yakin bahwa takdir datang dari Allah, sehingga ketika ia
mendapat kesulitan dalam sesuatu, maka ia akan melihat takdir Tuhan di
dalamnya. Dan jika ia mendapatkan kemudahan dalam sesuatu, maka ia
melihat kemudahan dari Allah di dalamnya.
e.
Sabar (al-shabr)
Al-Qusyairi mengawali pembahasan tentang sabar dengan
mengutip ayat Al-Qur’an yang berbunyi,
÷É9ô¹$#ur $tBur x8çö9|¹ wÎ) «!$$Î/ 4 ...
“Artinya:Bersabarlah, dan tidaklah kesabaran itu kecuali dengan pertolongan Allah.”(Q.S. An-Nahl/16:127)[32]
Sabar menurutnya terbagi ke dalam dua bagian. Sabar
terhadap apa yang diupayakan, dan sabar terhadap apa yang tidak diupayakan.
Tentang sabar yang diupayakan, ada sabar dalam menjalankan perintah-perintah
Allah dan ada sabar dalam menjauhi larangan-larangan-Nya. Mengenai sabar yang
tidak diupayakan, maka kesabarannya adalah dalam menjalani ketentuan Allah yang
menimbulkan kesukaran beginya. Ketika ditanya apa itu sabar, al-Junayd
menjawab, “meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut”.[33]
f. Rida
(al-Ridha)
Menurut al-Qusyairi, ulama Irak dan Khurasan berbeda
pendapat mengenai rida, apakah ia hal atau maqam. Ulama khurasan
mengatakan bahwa rida adalah maqam sebagai puncak dari tawakal kepada Allah.
Ini berarti bahwa rida dapat dicapai oleh si hamba dengan upayanya sendiri.
Sedangkan ulama Irak mengatakan bahwa rida adalah salah satu ahwal. Jadi
bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya-upaya seorang hamba, melainkan
sebagai sesuatu yang memasuki hati, seperti ahwal yang lain.
Al-Qusyairi kemudian mencari jalan tengah dengan
mengatakan bahwa "Awal rida adalah sesuatu yang dicapai oleh sang hamba
dan merupakan maqam, tapi pada akhirnya rida merupakan keadaan rohani (hal) dan
bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya manusia. Orang yang rida katanya
adalah yang sama sekali tidak menentang takdir-Nya. Itulah sebabnya Syekh Abu
'Ali al-Daqqaq mengatakan, "Rida bukanlah bahwa engkau tidak mengalami
cobaan, tetapi rida hanyalah bahwa engkau tidak berkeberatan terhadap hukum dan
qadha tuhan."[34]
Ajaran
tasawuf akhlaki dari kedua tokoh (Al-Ghazali dan Al-Qusyairi) memang memiliki
beberapa perbedaan dalam tahapan-tahapan seseorang mendekatkan diri kepada
Allah. Untuk lebih jelasnya, lihat penjelasan di bawah ini:
1.
Tobat
Maqamat ini sama-sama menempati
tahapan pertama dari ajaran kedua Imam. Perbedaan antara ajaran keduanya
adalah:
a.
Al-Ghazali lebih menekankan terjalinnya
hubungan yang mesra dengan-Nya (kebahagiaan dan kesenangan).
b.
Al-Qusyairi
berpendapat bahwa tobat merupakan penyesalan atas sesuatu yang dicela menurut syara’
menuju sesuatu yang di ridhoi oleh-Nya.
2.
Sabar
Maqamat
ini menurut Al-Ghazali menempati tahapan kedua, sementara menurut Al-Qusyairi
menempati tahapan kelima.
a.
Al-Ghazali membagi sabar
menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan fisik dan sabar yang berkaitan
dengan menahan diri dari berbagai keinginan tabiat atau hawa nafsu.
b.
Menurut Al-Qusyairi sabar juga terbagi menjadi dua, yaitu sabar
dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan sabar yang kedua
yaitu sabar yang menimbulkan kesukaan dalam menghadapi musibah.
3.
Zuhud
Maqamat
ini menurut Al-Ghazali menempati tahapan keempat, sementara menurut Al-Qusyairi
menempati tahapan ketiga. Perbedaan antara ajaran kedua tokoh adalah:
a.
Al-Ghazali mengatakan bahwa
zuhud adalah sifat dimana tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan,kemuliaan
dan kehinaan, serta pujian dan hinaan.
b.
Sementara itu, Al-Qusyairi mengartikan
zuhud sebagai zuhud terhadap dunia. Dalam hal ini, yang dimaksud zuhud bukan
berarti menggunakan pakaian yang kasar, akan tetapi membatasi keinginan untuk
memperoleh dunia.[35]
4.
Tawakal
Maqamat
ini menurut Al-Ghazali menempati tahapan kelima, sementara menurut Al-Qusyairi
menempati tahapan keempat. Perbedaan ajaran kedua tokoh tentang maqamat
ini adalah:
a.
Al-Ghazali mengatakan bahwa
tawakal adalah menyerahkan urusan kepada Dzat yang maha dipercayai.
b.
Sedangkan menurut Al-Qusyairi tawakal urusan
hati. Sehingga, gerakan lahiriah tidak dapat menanggalkan tawakal dalam hati
manakala seorang hamba telah yakin takdir datang dari Allah.
5.
Rida
Maqamat ini sama-sama menempati
tahapan terakhir dari kedua Imam. Perbedaan ajaran kedua tokoh tentang maqamat
ini adalah:
a.
Al-Ghazali berpendapat
bahwa maqam ini sangat erat dengan rasa cinta. Sehingga, ketika seorang hamba
telah tertanam dalam jiwanya rasa cinta maka dia akan mudah dalam menerima
takdir Allah (rida).
b.
Sementara itu, Al-Qusyairi
berpendapat bahwa awal rida adalah awal sesuatu yang dicapai oleh seorang
hamba, tetapi pada akhirnya rida merupakan anugrah dari Allah.
6.
Kefakiran
Maqamat ini hanya ada dalam ajaran
Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali. Sifat ini berkaitan dengan sifat makhluk-Nya, yaitu
tidak ada yang sempurna. Sehingga, seseorang atau sesuatu membutuhkan selain darinya
untuk menyempurnakan kekurangannya, yang dimaksud dengan yang menyempurnakan
adalah Allah.
7.
Wara’
Maqamat ini hanya ada dalam ajaran
Tasawuf Akhlaki Al-Qusyairi. Ajaran ini berkaitan tentang menjauhi segala sesuatu selain
Allah, sehingga yang tertanam dalam hati seorang hamba hanyalah Allah semata.
8.
Cinta Ilahi (Mahabbah)
Maqamat ini hanya ada dalam ajaran
Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali. Alasan mengapa Mahabbah (cinta kepada Allah)
berhak mendapat cinta hamba-Nya adalah:
a.
Cinta manusia kepada dirinya sendiri karena wujud dan
kesempurnaannya berasal dari Allah,
b.
Allah adalah pemberi terbaik,
c.
Allah sangat dekat dengan makhluk-Nya.
Ajaran-ajaran Al-Ghazali dan Al-Qusyairi
tentang Akhlak Tasawuf seperti tobat, cinta ilahi, wara’, kefakiran, zuhud, tawakal,
sabar, dan rida sangat sulit didapat dalam prilaku-prilaku di zaman sekarang
dalam arti pengertian yang dimaksud oleh tokoh tersebut. Akan tetapi hal itu
bukan berarti tidak ada. Misalnya, Zuhud Batin, menurut penulis merupakan salah
satu konsep ajaran Al-Qusyairi. Selain itu, contoh lain dari relevansi ajaran
kedua tokoh tersebut adalah tobatnya Yahya Waloni, dia mengatakan bahwa dia
tidak berpindah agama, namun dia kembali kejalan yang benar. Sementara itu,
ajaran lain seperti wara’, tawakal, sabar, dan rida sangat sulit ditemukan di
tengah-tengah masyarakat yang telah tercemari budaya-budaya negatife.
Dalam relevansinya dengan zaman sekarang,
ajaran kedua tokoh (Al-Ghazali dan Al-Qusyairi) sangat cocok menjadi sebuah
jawaban dari permasalahan-permasalahan yang disebabkan degradasi[36]
moral. Korupsi, pembunuhan, perampokan , hingga
perebutan kekuasaan yang menghalalkan
semua cara untuk mencapai tujuan. Disamping itu, Al-Qusyairy
tidak mengharamkan kesenangan dunia, selama hal itu tidak memalingkan manusia
dari mengingat Allah. Beliau tidak sependapat dengan para sufi yang
mengharamkan sesuatu yang sebenarnya tidak diharamkan agama. Karena itu
Al-Qusyairy menyatakan, penulisan karya monumentalnya Risalatul Qusyairiyah,
termotinasi karena dirinya merasa sedih melihat persoalan yang menimpa dunia
Tasawwuf. Sehingga ajaran ini sangat
sesuai dengan keadaan umat muslim zaman sekarang.[37]
Di tengah kecenderungan
sekelompok umat Islam yang suka mendakwahkan Islam melalui jalur kekerasan,
maka doktrin tasawuf yang disuguhkan Imam Ghazali sangat pantas menjadi rujukan
dalam mendakwahkan Islam. Dalam pandangan Imam Ghazali, mendakwahkan Islam tidak harus dengan
kekerasan. Hal itu dapat terlihat dari salah satu ajaran beliau , yaitu Mahabbah.
Sehingga di Zaman sekarang, ajarah yang sangat cinta kedamaian itu sangat
diharapkan oleh masyarakat umum.
Demikian pembahasan yang
dapat kami susun dalam makalah ini, dari pembahasan pada bab sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa:
1.
Tasawuf Al-Ghaazali
a.
Biografi Al-Ghazali, Imam
al-Ghazali yang mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin
Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali yang lahir di kota Thusi pada abad ke 5 H. salah satu karyanya yang terkenal adalah Ihya’
‘Ulumuddin.
b.
Ajaran Tasawuf Akhlaki
Al-Ghazali, ajarannya mengenai Aklak Tasawuf diantaranya: tobat, sabar, kefakiran, zuhud, tawakal, mahabbah,
dan rida.
2.
Tasawuf Al-Qusyairi
a. Biografi Al-Qusyairi,
Al-Qusyairi yang mempunyai nama lengkap Abdul Karim Ibn Hawazin Ibn Abdul Malik
Ibn Thalhah Ibn Muhammad merupakan salah satu ulama yang lahir di Qusyair.
salah satu karyanya yang terkenal adalah Risalatul
Qusyairiyah.
b.
Ajaran Tasawuf Akhlaki
Al-Qusyairi, ajarannya mengenai Aklak Tasawuf diantaranya: tobat, wara’, zuhud, tawakal, sabar, dan rida.
3.
Perbandingan antara Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali dan
Al-Qusyairi banyak mempunyai persamaan dan perbedaan. Maqamat Al-Ghazali
jumlahnya lebih banyak dibandingkan maqamat
Al-Qusyairi, meskipun berbeda dalam tahapannya, namun memiliki tujuan yang
sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah.
4.
Relevansi kedua tasawuf dengan zaman sekarang, Ajaran-ajaran
Al-Ghazali dan Al-Qusyairi tentang Akhlak Tasawuf seperti Tobat, Wara’,
Tawakal, Sabar, dan Rida sangat sulit didapat dalam prilaku-prilaku di zaman
sekarang. Akan tetapi konsep ajaran Tobat dan Zuhud tersebut masih dapat kita
temukan.
Dalam perkembangan zaman yang semakin
modern, Asimilasi[38]Antara budaya satu dengan
yang lainnya tidak dapat dihindari. Sehingga, hal itu kerapkali menimbulkan
persoalan-persoalan apalagi jika budaya tersebut bertentangan dengan budaya
asal atau Ajaran Agama. Ajaran Akhlak Tasawuf yang dicontohkan oleh para tokoh
seperti Al-Ghazali dan Al-Qusyairi yang berorientasi pada Mental Spiritual dan
Akhlak Mulia hendaknya mendapat perhatian yang lebih dari kita sebagai benteng atau pelindung dari pengaruh-pengaruh
negatif dari perkembangan zaman.
Makalah ini tentunya tidak terlepas dari kesalahan-kesalahan
yang berasal dari diri kami sebagai penulis, yang tidak lain hanya mahluk Allah
yang leman dan penuh kesalahan. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak
sangat kami harapkan untuk memperbaiki
kesalahan. Adapun kebenaran yang terdapat dalam makalah ini murni berasal dari
Allah yang Maha Sempurna.
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 1: Ilmu dan Keyakinan,
Penerj., Ibnu Ibrahim Ba’adillah, Jakarta: Republika, 2011.
Al-Qusyairi, Abdul Karim, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Mesir: Darul Khair, T.th.
Munawwir, A. W., Kamus
Al-Munawwir: Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, Cet., 14, 1997.
Surin, Bachtiar, Terjemah
dan Tafsir Al-quran, Bandung: Fa. Sumatra, 1978.
Sya’bi, Akhmad, Kamus Al-Qolam, Surabaya: Halim, 1997.
Kasih, Putri Andria, Tasawuf Akhlaki, http://ucikasih.blogspot.com,
diakses pada tanggal 4 Maret 2015 pukul 13:51 WIB.
Syarqawi, Dhofir, Wara’ menurut Imam Al-Ghazali, http://falsafahilmu.blogspot.com, diakses pada tanggal 3 Maret
2015 pukul13:53 WIB.
Yusra, Makalah
Akhlak Tasawuf, http://uusmobile.blogspot.com,
Diakses pada tanggal 19 Februari
2015 pukul 13:45
WIB.
[3]Suri
Tauladan: Contoh dan panutan yang baik.
[4]Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Surabaya:
Duta Ilmu, 2002, h. 595.
[5]Al-Ghazali,
Ihya’ Ulumuddin 1: Ilmu dan Keyakinan, Penerj., Ibnu Ibrahim Ba’adillah,
Jakarta: Republika, 2011, h. vii.
[6]Hujjatul
Islam: pembela agama Islam.
[7]Thusi:
wilayah Thusi berada di Khurasan, salah satu wilayah di Persia atau kita kenal
saat ini Iran.
[8]Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 1: Ilmu…, h. xii.
[9]Yusra,
Makalah Akhlak Tasawuf, http://uusmobile.blogspot.com,
Diakses pada tanggal 19 Februari 2015 pukul 13:45 WIB.
[10]Akhmad Sya’bi, Kamus Al-Qolam, Surabaya: Halim, 1997, h. 26.
[12]Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Penerj.,
Ismail Yakub, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 1998, h. 929.
[18]Bachtiar Surin, Terjemah dan Tafsir Al-quran,
Bandung: Fa. Sumatra, 1978, h. 107.
[20]Maksudnya:
Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas
terhadap nikmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka.
[23]Laqob:
julukan atau nama panggilan.
[24]Abdul
Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah..., h.
5-6.
[25]Maqamat
adalah jalan yang harus ditempuh seseorang untuk berada dekat dengan Allah.
[26]Mulyadhi
Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta:
Erlangga, 2006, h. 192.
[27]Bachtiar Surin, Terjemah dan..., h. 772.
[28]A.
W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir:
Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, Cet., 14, 1997, h. 1552.
[30]Abuddin
Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, Cet., 4, 2002, h. 195.
[31]Bachtiar Surin, Terjemah dan..., h. 1305.
[36]Degradasi: penurunan.
[37]Putri Andria Kasih, Tasawuf Akhlaki, http://ucikasih.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 Maret 2015 pukul 13:51
WIB.
[38]Asimilasi: pertukaran atau percampuran..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar