Selasa, 02 Juni 2015

Tasawuf Akhlaki (Studi Pemikirean Al-Ghazali dan Al-Qusyairi)



Makalah Kelompok VII

TASAWUF AKHLAKI
(Studi Pemikiran Al-Ghazali dan Al-Qusyairi)

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah: Akhlak Tasawuf
Dosen: Dr. Khairil Anwar, M.Ag


1426686202065_jpg.jpg
 








Disusun Oleh :
Rudi Perdana
1402110432
Achmad Rifai
1402110442
Akhyannor
1402110455



PRODI AL-AHWAL ASY-SYAKSIYAH
FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PALANGKA RAYA
TAHUN 2015 M/1436 H


TRANSLITERASI


Kata transliterasi berasal  dari kosa kata bahasa Inggris transliteration, yaitu trans yang berarti pindah, alih, ganti dan literation yang berarti liter, huruf. Jadi, bisa disimpulkan bahwa transliterasi huruf Arab-Latin adalah pergantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain.

1.      Konsonan
Fonen konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda dan sebagian lain lagi dengan huruf dan tanda sekaligus.
No
Huruf Arab
Huruf Latin
No
Huruf Arab
Huruf Latin
1
ا
Alif
16
ط
th
2
ب
B
17
ظ
zh
3
ت
T
18
ع
‘a
4
ث
Ts
19
غ
gh
5
ج
J
20
ف
f
6
ح
H
21
q
7
خ
Kh
22
ك
k
8
د
D
23
ل
l
9
ذ
Dz
24
م
m
10
ر
R
25
ن
n
11
ز
Z
26
و
w
12
س
S
27
ه
h
13
ش
Sy
28
ء
14
ص
Sh
29
ي
y
15
ض
Dh







2.      Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong), serta vokal panjang (madd).

a.       Vokal tunggal (monoftong)
No
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
1
َ
A
Fathah
2
ِ
I
Kasrah
3
ُ
U
dammah

b.      Vokal rangkap (diftong)
No
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
1
ى------
Ai
A dengan i
2
و-------
Au
A dengan u

c.       Vokal panjang (madd)
No
Huruf Arab
Huruf Latin
Keterangan
1
ﻴا
Â
A dengan topi diatas
2
Î
I dengan topi diatas
3
ىو
Û
U dengan topi diatas


KATA PENGANTAR

                   
Assalamuailaikum. Wr. Wb
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Kitab yang ditujukan sebagai pedoman dan ilmu pengetahuan bagi hamba-Nya. Allah yang telah memberikan nikmat yang begitu banyak, dan tidak akan mungkin dihitung oleh makhluk-Nya. Allah juga berjanji akan menambah nikmat-Nya bagi siapa saja yang mau mensyukuri. Dalam rangka mensyukuri nikmat tersebut, kami berusaha menyelesaikan penulisan makalah dengan judul “TASAWUF AKHLAKI (Studi Pemikiran Al-Ghazali dan Al-Qusyairi)”. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan sehingga makalah ini dapat hadir ditengah-tengah kita.
Dapat diselesaikannya makalah ini tidak terlepas dari semua pihak yang telah mendedikasikan baik berupa moral maupun material. Terutama kepada:
1.      Bapak Dr. Khairil Anwar, M.Ag, selaku pengampu mata kuliah Akhlak Tasawuf yang tidak henti-hentinya memberikan bimbingan.
2.      Rekan-rekan semua yang terus mendukung kami dan memberikan motivasi demi terselesainya makalah ini.
Untuk itu, sudah sepantasnya kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Semoga apa yang saudara berikan oleh Allah dinilai sebagai amal ibadah yang akan memberatkan timbangan kebaikan di akhirat. Amin.
Akhirnya, terlepas dari banyaknya kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, kami selaku penulis berharap hal ini dapat memberikan manfaat khususnya pada diri kami dan para pecinta pengetahuan pada umumnya.

Wassalamualaikum. Wr. Wb
                                                                                  Palangka Raya, Februari 2015


                                                                                                   Penulis




BAB I

 PENDAHULUAN

                                                            
Ajaran agama kerapkali salah dipahami oleh pemeluknya. Tidak terkecuali dengan Islam, paham sekulerisme yang memandang akhirat dan dunia tidak ada hubungannya tentu sangat bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Pahala yang diyakini oleh mereka hanya bisa didapat di Masjid, Musholla, Pesantren, dan tempat-tempat yang semisal dengan itu. Sementara dilain sisi sebagian yang lain beranggapan bahwa ketika mencari dunia tidak akan berakibat di akhirat. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan hal itu menjadi sebab maraknya korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, dan masih banyak lainnya.[1] Masalah moral yang begitu menghawatirkan dan jika dibiarkan akan mengakibatkan kerusakan yang menuntut adanya sebuah solusi.
Dalam hal ini, Akhlak Tasawuf yang berbicara tentang mental spiritual dan juga akhlak yang mulia sangat cocok menjadi solusi pemecahan masalah. Setidaknya, Islam juga menghendaki yang demikian. Nabi Muhammad yang diutus oleh Allah untuk seluruh alam dengan membawa misi penyempurnaan Akhlak.
انما بعثت لأتمم مكا رم الأخلاق(روه احمد)
“Bahwasanya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan keluhuran budi pekerti.(H.R. Ahmad)[2]
Dalam sejarah mencatat, bahwa salah satu faktor dalam keberhasilan dakwah nabi Muhammad tidak lain karena ditunjang oleh akhlak yang mulia. Sehingga, sebagai seorang muslim tentu diwajibkan menjadikan nabi Muhammad sebagai suri tauladan[3]. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(Q.S. Al-Ahzab/33:21)[4]

Dilain sisi, Allah juga melarang hambanya untuk melupakan kehidupan di dunia. Karena sejatinya dunia merupakan ladang pahala bagi orang-orang yang bijak.
Selain faktor tersebut, keberadaaan Akhlak Tasawuf yang hingga kini tetap eksis tidak terlepas dari para tokoh tasawuf itu sendiri. Untuk itu, dalam penulisan makalah ini kami berusaha menyajikan dua tokoh dalam tasawuf yaitu, Al-Ghazali dan Al-Qusyairi. Harapannya, hal itu dapat menambah khazanah keilmuan sehingga kedepannya dapat di implementasikan dalam kehidupan. Dengan kata lain dapat dijadikan pembelajaran dan solusi bagi orang-orang sesudahnya. Amin.

Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.      Bagaimana ajaran Akhlak Tasawuf Al-Ghazali?
2.      Bagaimana ajaran Akhlak Tasawuf Al-Qusyairi?
3.      Bagaimana perbandingan antara Akhlak Tasawuf Al-Ghazali dan Al-Qusyairi?
4.      Bagaimana relevansi Akhlak Tasawuf Al-Ghazali dan Al-Qusyairi dengan zaman sekarang?

C.  Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini,selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf lebih lanjut bertujuan untuk menambah wawasan keislaman tentang:
1.    Ajaran Akhlak Tasawuf Al-Ghaazali,
2.    Ajaran Akhlak Tasawuf Al-Qusyairi,
3.    Perbandingan antara ajaran Akhlak Tasawuf Al-Ghazali dan Al-Qusyairi,
4.    Relevansi kedua ajaran Akhlak Tasawuf dengan zaman sekarang.

D.  Batasan Masalah
Mengingat terlalu luasnya pembahasan Akhlak Tasawuf, sehingga menurut kami perlu adanya pembatasan masalah. Hal ini bertujuan agar yang menjadi pokok permasalahan dapat diuraikan lebih mendalam. Adapun yang menjadi batasan masalah dalam makalah ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan rumusan masalah di atas.

Dalam penulisan makalah ini, metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka (Library search) dan penelusuran internet (Web search).


BAB II

PEMBAHASAN



Imam al-Ghazali yang mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali yang lahir di kota Thusi pada abad ke 5 H.[5] Beliau lebih dikenal dengan Hujjatul Islam[6]. Sementara nama Ghazali menurut pendapat yang paling unggul merupakan nama yang dinisbatkan pada suatu wilayah di dataran Thusi[7]. Beliau merupakan salah satu ulama yang produktif dalam berkarya, di antaranya:
a.    Ihya’ Ulumuddin,
b.    Tahafut al-Falasifah,
c.    Al-Basith,
d.   Al-Wasith,
e.    Dan lain-lain.
Beliau meninggal pada hari Senin, tanggal 14, bulan Jumadil Akhir, tahun 505 H.[8]
Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak, mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan manusia yang dapat ma’rifah kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni, yaitu bentuk tasawuf yang memagari dirinya dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ‘Ulama Salaf As-Salih.[9] Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang untuk mendekatkan kepada tuhannya, Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Imam Al-Ghazali membagi maqamat dalam beberapa tahap, yaitu:
a.    Tobat (At-Taubah)
Tobat berasal dari bahasa Arab tâba- yatûbu- taubatan, yang mempunyai arti menyesal atas perbuatan dosa.[10] Menurut imam Al-Ghazali tobat berarti penyesalan, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud:
الندم توبة
“Artinya: Tobat adalah penyesalan”[11]
Lebih lanjut, Al-Ghazali berpendapat bahwa tobat merupakan permulaan jalan bagi orang-orang yang hendak mendekatkan diri kepada Allah dan kunci kelurusan bagi tegaknya orang-orang yang cenderung kepada hal-hal yang syubhat. Sebagaimana ungkapan beliau dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin yang diterjemahkan oleh Ismail Yakub:
“Sesungguhnya nabi Adam a.s. telah mengetuk gigi penyesalan (menyatakan penyesalannya). Ia sangat menyesal atas apa yang telah diperbuatnya dahulu dan telah berlalu itu. Maka siapa yang mengambilnya menjadi ikutan pada dosa, tanpa taubat, niscaya dengan yang demikian, telah tergilincir tapak kakinya. Akan tetapi, menjurus kepada semata-mata kebajikan, adalah sifat para malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah (Al-Muqarrabin). Dan menjurus kepada kejahatan, tanpa kembali kepada kebaikan adalah sifat setan-setan. Dan kembali kepada kebajikan sesudah jatuh dalam kejahatan, adalah perlu (penting) bagi para anak Adam.”[12]

b.      Sabar (Al-Shabr)
Al-Ghazali membagi sabar menjadi dua yaitu sabar yang berkaitan dengan fisik dan sabar yang terpuji dan sempurna. Menurutnya yang dimaksud sabar yang berkaitan dengan fisik adalah ketabahan dan ketegaran memikul beban dengan badan. Contoh kesabaran yang seperti ini adalah melakukan pekerjaan yang berat berupa ibadah , menahan penyakit, atau ketabahan menahan pukulan.[13] Sedang sabar yang terpuji dan sempurna ialah kemampuan jiwa untuk menahan diri dalam berbagai keinginan tabiat atau hawa nafsu.[14]
c.       Kefakiran (Al-Faqr)
Al-Ghazali mengartikan kefakiran sebagai ketidakmampuan seseorang atau sesuatu mendapatkan apa yang dibutuhkan. Maka dalam arti ini, seluruh wujud selain Allah adalah fakir. Karena sejatinya segala sesuatu yang jauh dari kata sempurna (Makhluk-Nya) itu membutuhkan yang lain yang Maha Sempurna (Allah).    
d.      Zuhud (Az-Zuhd)
Zuhud menurut Ghazali adalah suatu sikap atau keadaan jiwa yang tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan. Al-Ghazali menyebut tiga tanda seseorang memiliki sifat zuhud yaitu:
1)      Tidak bergembira dengan yang ada dan tidak bersedih dengan sesuatu yang tidak ada,
2)      Sama saja baginya orang yang mencela dan memujinya. Hal itu tidak akan mempengaruhi dalam beribadah,
3)      Hendaknya ia bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan dan cinta Allah.[15]
e.       Tawakal (Al-Tawakkal)
Tawakal dalam hal ini adalah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Al-Ghazali membagi tawakal kedalam tiga tingkatan sebagaimana dikutip Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya “Menyelami Lubuk Tasawuf”:
“…(1) Keadaan menyangkut hak Allah dan keyakinannya kepada jaminan dan perhatian-Nya adalah seperti keyakinannya kepada wakil. (2) yang lebih kuat, yaitu keadaannya bersama Allah adalah seperti keadaan anak kecil bersama ibunya, di mana ia tidak mengenal yang lainnya, dan tidak bersandar kecuali kepadanya. (3) keadaan tawakal yang paling tinggi, yaitu hendaknya ia berada di hadapan Allah dalam semua gerak dan diamnya, seperti mayat yang ada di tangan orang yang memandikannya.”[16]
f.          Cinta Ilahi (Mahabbah)
Dalam maqamat ini, Al-Ghazali mengatakan bahwa seorang yang mencintai sesuatu tanpa didasari cinta kepada Allah adalah kebodohan dan kurangnya mengenal Allah.[17] Dalam Al-Quran surat Al-Anfal ayat 2, Allah berfirman:
ö@è% bÎ) óOçFZä. tbq7Åsè? ©!$# ÏRqãèÎ7¨?$$sù ãNä3ö7Î6ósムª!$# öÏÿøótƒur ö/ä3s9 ö/ä3t/qçRèŒ 3 ª!$#ur Öqàÿxî ÒOÏm§ ÇÌÊÈ  
 “Artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Anfal/8:2)[18]
g.      Rida (ar-Ridha)
Al-Ghazali menyebut sifat rida maqam terakhir. Rida menurutnya sangat erat hubungannya dengan cinta. Kalau cinta kepada Allah sudah tertanam pada diri seseorang, maka cinta tersebut akan menimbulkan sifat rida atau senang atas semua perbuatan Tuhan.[19] Tentang rida, terdapat dalam Al-Quran salah satunya surah Al-Maidah ayat 119:
zÓÅ̧... ª!$# öNåk÷]tã (#qàÊuur çm÷Ztã 4 y7Ï9ºsŒ ãöqxÿø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÊÊÒÈ  
Artinya: Allah ridha terhadapNya[20]Itulah keberuntungan yang paling besar.(Q.S. Al-Maidah/5:119)[21]
B.  Akhlak Tasawuf Al-Qusyairi
Al-Qusyairi yang mempunyai nama lengkap Abdul Karim Ibn Hawazin Ibn Abdul Malik Ibn Thalhah Ibn Muhammad merupakan salah satu ulama yang lahir di Qusyair.[22] Sehingga nama Al-Qusyairi dinisbatkan ke daerah tempatnya di lahirkan. Menurut beberapa pendapat Al-Qusyairi mempunyai banyak laqob[23] di antaranya:
a.       As-Syafi’i
b.      An-Naisaburi
c.       Al-Istiwa’i[24]
Ulama ini menguasai beberapa bidang keilmuan diantaranya, Tasawuf, Fiqih, Ushul Al-Din, dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 465 H/ 1073 M dalam usia 87 tahun.
Dalam pembahasan ini, ajaran tasawuf akhlaki yang kami maksud adalah yang berkenaan dengan maqamat[25] sebagaimana di atas. Imam Al-Qusyairi membagi maqamat itu dalam beberapa tingkatan, yaitu:
a.    Tobat (At-Taubah)
Al-Qusyairi berpendapat bahwa yang dimaksud dengan tobat adalah kembali. Artinya, kembali dari sesuatu yang dicela oleh syari’at menuju sesuatu yang terpuji menurut syari’at atau yang diridhoi oleh-Nya.[26] Banyak dalil yang menganjurkan hamba untuk bertobat salah satunya ayat Al-Quran berikut ini:
... (#þqç/qè?ur n<Î) «!$# $·èŠÏHsd tmƒr& šcqãZÏB÷sßJø9$# ÷/ä3ª=yès9 šcqßsÎ=øÿè? ÇÌÊÈ  
Artinya:...dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(Q.S. An-Nur/24: 31)[27]
Syarat sebuah tobat untuk bisa diterima oleh Allah menurut Al-Qusyairi adalah menyesali pelanggaran yang telah dilakukan, meninggalkan dan berupaya tidak mengulangi pelanggaran itu.
b.      Al-Wara’
Al-Wara’ menurut bahasa berarti menjauhkan diri dari dosa, maksiat dan perkara syubhat.[28] Lebih lanjut, menurut Al-Qusyairi arti wara' sebagaimana yang beliau kutip dari gurunya:
Abu ‘Ali Daqqaq, adalah “meninggalkan apa pun yang syubhat.” Atau seperti yang dikatakan Ibrahim ibn Adham, yaitu “meninggalkan segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun yang berlebihan.”[29]

c.       Zuhud (Az-Zuhud)
Zuhud merupakan salah satu ajaran yang penting dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pendapat Al-Qusyairi yang dikutip oleh Abuddin Nata menyatakan:
“...bahwa di antara para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan zuhud. Sebagian ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah orang yang zuhud di dalam masalah yang haram, karena yang halal adalah sesuatu yang mubah dalam pandangan Allah, yaitu orang yang diberikan nikmat berupa harta yang halal, kemudian ia bersyukur dan meninggalkan dunia itu dengan kesadarannya sendiri. Sebagian ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah zuhud dalam yang haram sebagai suatu kewajiban.”[30]

d.   Tawakal (Al-Tawakkal)
Tentang tawakal, Al-Qusyairi mengutip ayat Al-Quran surat At-Thallaq ayat 3:
... `tBur ö@©.uqtGtƒ n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym ..4.  
Artinya: ...dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya....”(Q.S. At-Thallaq/65:3)[31]

Abu Nashr Al-Sarraj berkata, “Keadaan bertawakal kepada Allah adalah mengabdikan jasad untuk beribadah, mengaitkan hati kepada Allah dan bersikap tenang dalam mencari kebutuhan. Kalau diberi, ia bersyukur, jika tidak, ia tetap bersabar. Menurut Abu Sahl bin ‘Abdillah, tawakal adalah “menyerahkan diri kepada Allah dalam apa pun yang dikehendaki oleh-Nya.” Menurut al-Qusyairi, tempat tawakal adalah hati, sedangkan gerakan lahiriah tidak menanggalkan tawakal dalam hati manakala si hamba telah yakin bahwa takdir datang dari Allah, sehingga ketika ia mendapat kesulitan dalam sesuatu, maka ia akan melihat takdir Tuhan di dalamnya. Dan jika ia mendapatkan kemudahan dalam sesuatu, maka ia melihat kemudahan dari Allah di dalamnya.
e.       Sabar (al-shabr)
Al-Qusyairi mengawali pembahasan tentang sabar dengan mengutip ayat Al-Qur’an yang berbunyi,
÷ŽÉ9ô¹$#ur $tBur x8çŽö9|¹ žwÎ) «!$$Î/ 4 ...
 Artinya:Bersabarlah, dan tidaklah kesabaran itu kecuali dengan pertolongan Allah.”(Q.S. An-Nahl/16:127)[32]
Sabar menurutnya terbagi ke dalam dua bagian. Sabar terhadap apa yang diupayakan, dan sabar terhadap apa yang tidak diupayakan. Tentang sabar yang diupayakan, ada sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan ada sabar dalam menjauhi larangan-larangan-Nya. Mengenai sabar yang tidak diupayakan, maka kesabarannya adalah dalam menjalani ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran beginya. Ketika ditanya apa itu sabar, al-Junayd menjawab, “meneguk kepahitan tanpa wajah cemberut”.[33]
f.        Rida (al-Ridha)
Menurut al-Qusyairi, ulama Irak dan Khurasan berbeda pendapat mengenai rida, apakah ia hal atau maqam. Ulama khurasan mengatakan bahwa rida adalah maqam sebagai puncak dari tawakal kepada Allah. Ini berarti bahwa rida dapat dicapai oleh si hamba dengan upayanya sendiri. Sedangkan ulama Irak mengatakan bahwa rida adalah salah satu ahwal. Jadi bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya-upaya seorang hamba, melainkan sebagai sesuatu yang memasuki hati, seperti ahwal yang lain.
Al-Qusyairi kemudian mencari jalan tengah dengan mengatakan bahwa "Awal rida adalah sesuatu yang dicapai oleh sang hamba dan merupakan maqam, tapi pada akhirnya rida merupakan keadaan rohani (hal) dan bukan sesuatu yang diperoleh dengan upaya manusia. Orang yang rida katanya adalah yang sama sekali tidak menentang takdir-Nya. Itulah sebabnya Syekh Abu 'Ali al-Daqqaq mengatakan, "Rida bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, tetapi rida hanyalah bahwa engkau tidak berkeberatan terhadap hukum dan qadha tuhan."[34]

Ajaran tasawuf akhlaki dari kedua tokoh (Al-Ghazali dan Al-Qusyairi) memang memiliki beberapa perbedaan dalam tahapan-tahapan seseorang mendekatkan diri kepada Allah. Untuk lebih jelasnya, lihat penjelasan di bawah ini:
1.     Tobat
Maqamat ini sama-sama menempati tahapan pertama dari ajaran kedua Imam. Perbedaan antara ajaran keduanya adalah:
a.    Al-Ghazali lebih menekankan terjalinnya hubungan yang mesra dengan-Nya (kebahagiaan dan kesenangan).
b.     Al-Qusyairi berpendapat bahwa tobat merupakan penyesalan atas sesuatu yang dicela menurut syara’ menuju sesuatu yang di ridhoi oleh-Nya.
2.    Sabar
Maqamat ini menurut Al-Ghazali menempati tahapan kedua, sementara menurut Al-Qusyairi menempati tahapan kelima.
a.    Al-Ghazali membagi sabar menjadi dua, yaitu sabar yang berkaitan dengan fisik dan sabar yang berkaitan dengan menahan diri dari berbagai keinginan tabiat atau hawa nafsu.
b.    Menurut Al-Qusyairi  sabar juga terbagi menjadi dua, yaitu sabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, dan sabar yang kedua yaitu sabar yang menimbulkan kesukaan dalam menghadapi musibah.
3.    Zuhud
Maqamat ini menurut Al-Ghazali menempati tahapan keempat, sementara menurut Al-Qusyairi menempati tahapan ketiga. Perbedaan antara ajaran kedua tokoh adalah:
a.    Al-Ghazali mengatakan bahwa zuhud adalah sifat dimana tidak adanya perbedaan antara kemiskinan dan kekayaan,kemuliaan dan kehinaan, serta pujian dan hinaan.
b.    Sementara itu, Al-Qusyairi mengartikan zuhud sebagai zuhud terhadap dunia. Dalam hal ini, yang dimaksud zuhud bukan berarti menggunakan pakaian yang kasar, akan tetapi membatasi keinginan untuk memperoleh dunia.[35]
4.    Tawakal
Maqamat ini menurut Al-Ghazali menempati tahapan kelima, sementara menurut Al-Qusyairi menempati tahapan keempat. Perbedaan ajaran kedua tokoh tentang maqamat ini adalah:
a.    Al-Ghazali mengatakan bahwa tawakal adalah menyerahkan urusan kepada Dzat yang maha dipercayai.
b.    Sedangkan menurut Al-Qusyairi tawakal urusan hati. Sehingga, gerakan lahiriah tidak dapat menanggalkan tawakal dalam hati manakala seorang hamba telah yakin takdir datang dari Allah.
5.    Rida
Maqamat ini sama-sama menempati tahapan terakhir dari kedua Imam. Perbedaan ajaran kedua tokoh tentang maqamat ini adalah:
a.    Al-Ghazali berpendapat bahwa maqam ini sangat erat dengan rasa cinta. Sehingga, ketika seorang hamba telah tertanam dalam jiwanya rasa cinta maka dia akan mudah dalam menerima takdir Allah (rida).
b.    Sementara itu, Al-Qusyairi berpendapat bahwa awal rida adalah awal sesuatu yang dicapai oleh seorang hamba, tetapi pada akhirnya rida merupakan anugrah dari Allah.
6.    Kefakiran
Maqamat ini hanya ada dalam ajaran Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali. Sifat ini berkaitan dengan sifat makhluk-Nya, yaitu tidak ada yang sempurna. Sehingga, seseorang atau sesuatu membutuhkan selain darinya untuk menyempurnakan kekurangannya, yang dimaksud dengan yang menyempurnakan adalah Allah.
7.    Wara’
Maqamat ini hanya ada dalam ajaran Tasawuf Akhlaki Al-Qusyairi. Ajaran ini berkaitan tentang menjauhi segala sesuatu selain Allah, sehingga yang tertanam dalam hati seorang hamba hanyalah Allah semata.
8.    Cinta Ilahi (Mahabbah)
Maqamat ini hanya ada dalam ajaran Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali. Alasan mengapa Mahabbah (cinta kepada Allah) berhak mendapat cinta hamba-Nya adalah:
a.    Cinta manusia kepada dirinya sendiri karena wujud dan kesempurnaannya berasal dari Allah,
b.    Allah adalah pemberi terbaik,
c.    Allah sangat dekat dengan makhluk-Nya.

Ajaran-ajaran Al-Ghazali dan Al-Qusyairi tentang Akhlak Tasawuf seperti tobat, cinta ilahi, wara’, kefakiran, zuhud, tawakal, sabar, dan rida sangat sulit didapat dalam prilaku-prilaku di zaman sekarang dalam arti pengertian yang dimaksud oleh tokoh tersebut. Akan tetapi hal itu bukan berarti tidak ada. Misalnya, Zuhud Batin, menurut penulis merupakan salah satu konsep ajaran Al-Qusyairi. Selain itu, contoh lain dari relevansi ajaran kedua tokoh tersebut adalah tobatnya Yahya Waloni, dia mengatakan bahwa dia tidak berpindah agama, namun dia kembali kejalan yang benar. Sementara itu, ajaran lain seperti wara’, tawakal, sabar, dan rida sangat sulit ditemukan di tengah-tengah masyarakat yang telah tercemari budaya-budaya negatife.
Di tengah kecenderungan sekelompok umat Islam yang suka mendakwahkan Islam melalui jalur kekerasan, maka doktrin tasawuf yang disuguhkan Imam Ghazali sangat pantas menjadi rujukan dalam mendakwahkan Islam. Dalam pandangan Imam Ghazali,  mendakwahkan Islam tidak harus dengan kekerasan. Hal itu dapat terlihat dari salah satu ajaran beliau , yaitu Mahabbah. Sehingga di Zaman sekarang, ajarah yang sangat cinta kedamaian itu sangat diharapkan oleh masyarakat umum.




1.    Tasawuf Al-Ghaazali
a.    Biografi Al-Ghazali, Imam al-Ghazali yang mempunyai nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali yang lahir di kota Thusi pada abad ke 5 H.  salah satu karyanya yang terkenal adalah Ihya’ ‘Ulumuddin.
b.    Ajaran Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali, ajarannya mengenai Aklak Tasawuf diantaranya: tobat, sabar, kefakiran, zuhud, tawakal, mahabbah, dan rida.
2.    Tasawuf Al-Qusyairi
a.    Biografi Al-Qusyairi, Al-Qusyairi yang mempunyai nama lengkap Abdul Karim Ibn Hawazin Ibn Abdul Malik Ibn Thalhah Ibn Muhammad merupakan salah satu ulama yang lahir di Qusyair. salah satu karyanya yang terkenal adalah Risalatul Qusyairiyah.
b.    Ajaran Tasawuf Akhlaki Al-Qusyairi, ajarannya mengenai Aklak Tasawuf diantaranya: tobat, wara’, zuhud, tawakal, sabar, dan rida.
3.    Perbandingan antara Tasawuf Akhlaki Al-Ghazali dan Al-Qusyairi banyak mempunyai persamaan dan perbedaan. Maqamat Al-Ghazali jumlahnya lebih banyak dibandingkan  maqamat Al-Qusyairi, meskipun berbeda dalam tahapannya, namun memiliki tujuan yang sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah.
4.    Relevansi kedua tasawuf dengan zaman sekarang, Ajaran-ajaran Al-Ghazali dan Al-Qusyairi tentang Akhlak Tasawuf seperti Tobat, Wara’, Tawakal, Sabar, dan Rida sangat sulit didapat dalam prilaku-prilaku di zaman sekarang. Akan tetapi konsep ajaran Tobat dan Zuhud tersebut masih dapat kita temukan.

Dalam perkembangan zaman yang semakin modern, Asimilasi[38]Antara budaya satu dengan yang lainnya tidak dapat dihindari. Sehingga, hal itu kerapkali menimbulkan persoalan-persoalan apalagi jika budaya tersebut bertentangan dengan budaya asal atau Ajaran Agama. Ajaran Akhlak Tasawuf yang dicontohkan oleh para tokoh seperti Al-Ghazali dan Al-Qusyairi yang berorientasi pada Mental Spiritual dan Akhlak Mulia hendaknya mendapat perhatian yang lebih dari kita sebagai  benteng atau pelindung dari pengaruh-pengaruh negatif dari perkembangan zaman.





Al-Qusyairi, Abdul Karim, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Mesir: Darul Khair, T.th.
Agama RI, Departemen, Al-Quran dan Terjemahannya, Surabaya: Duta Ilmu, 2002.


Kartanegara, Mulyadhi, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006.

Munawwir, A. W., Kamus Al-Munawwir: Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, Cet., 14, 1997.
Nata, Abuddin, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet., 4, 2002.

Surin, Bachtiar, Terjemah dan Tafsir Al-quran, Bandung: Fa. Sumatra, 1978.

Sya’bi, Akhmad, Kamus Al-Qolam, Surabaya: Halim, 1997.


Kasih, Putri Andria, Tasawuf Akhlaki, http://ucikasih.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 Maret 2015 pukul 13:51 WIB.

Syarqawi, Dhofir, Wara’ menurut Imam Al-Ghazali, http://falsafahilmu.blogspot.com, diakses pada tanggal 3 Maret 2015 pukul13:53 WIB.
Yusra, Makalah Akhlak Tasawuf, http://uusmobile.blogspot.com, Diakses pada tanggal 19 Februari 2015 pukul 13:45 WIB.
         


[1]Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet., 4, 2002, h.xiv.
[2]Ibid., h. 2.
[3]Suri Tauladan: Contoh dan panutan yang baik.
[4]Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, Surabaya: Duta Ilmu, 2002, h. 595.
[5]Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 1: Ilmu dan Keyakinan, Penerj., Ibnu Ibrahim Ba’adillah, Jakarta: Republika, 2011, h. vii.
[6]Hujjatul Islam: pembela agama Islam.
[7]Thusi: wilayah Thusi berada di Khurasan, salah satu wilayah di Persia atau kita kenal saat ini Iran.
[8]Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin 1: Ilmu…, h. xii.
[9]Yusra, Makalah Akhlak Tasawuf, http://uusmobile.blogspot.com, Diakses pada tanggal 19 Februari 2015 pukul 13:45 WIB.
[10]Akhmad Sya’bi, Kamus Al-Qolam, Surabaya: Halim, 1997, h. 26.
[11]Abdul Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah, Mesir: Darul Khair, T.th., h. 91.
[12]Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Penerj., Ismail Yakub, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, 1998, h. 929.
[13]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006, h. 198.
[14]Ibid.
[15]Ibid., h. 199.
[16]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk…, h. 200.
[17]Ibid.,
[18]Bachtiar Surin, Terjemah dan Tafsir Al-quran, Bandung: Fa. Sumatra, 1978, h. 107.
[19]Ibid., h. 202.
[20]Maksudnya: Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang telah dicurahkan Allah kepada mereka.
[21]Departemen Agama RI, Al-Quran dan…, h. 170.
[22]Abdul Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah…, h. 5.
[23]Laqob: julukan atau nama panggilan.
[24]Abdul Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah..., h. 5-6.
[25]Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seseorang untuk berada dekat dengan Allah.
[26]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006, h. 192.
[27]Bachtiar Surin, Terjemah dan...,  h. 772.
[28]A. W. Munawwir, Kamus Al-Munawwir: Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif, Cet., 14, 1997, h. 1552.
[29]Abdul Karim Al-Qusyairi, Ar-Risalah..., h. 110.
[30]Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet., 4, 2002, h. 195.
[31]Bachtiar Surin, Terjemah dan..., h. 1305.
[32]Ibid., h. 588.
[33]Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk...h. 194.
[34]Ibid,… h. 195.
[35]Ibid,… h. 193.
[36]Degradasi: penurunan.
[37]Putri Andria Kasih, Tasawuf Akhlaki, http://ucikasih.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 Maret 2015 pukul 13:51 WIB.
[38]Asimilasi: pertukaran atau percampuran..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar