Kelompok 7
PENGETAHUAN
DAN UKURAN KEBENARAN
Disusun untuk memenuhi salah satu
tugas
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Dosen: Dr. Syarifudin, M.Ag

Disusun oleh:
Achmad Rifa’i
Nim.1402110442
PRODI
AHS DAN HESY
JURUSAN
SYARI’AH FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
TAHUN
2015 M/ 1436 H
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi
Allah tuhan semesta alam, yang telah menurunkan al-Quran kepada nabi Muhammad
melalui malaikat Jibril yang ditujukan sebagai pedoman dan juga sumber semua
ilmu pengetahuan bagi makhluk-Nya. Allah yang telah memberikan banyak nikmat
kepada hamba-Nya dan berjanji akan menambahnya bila mau disyukuri. Dalam rangka
mensyukuri nikmatNya itu, kami berusaha menyelesaikan penulisan makalah dengan
judul “PENGETAHUAN DAN UKURAN
KEBENARAN”. Alhamdulillah,
Allah memberikan kemudahan kepada penulis, sehingga makalah yang sederhana ini
dapat hadir di tengah-tengah kita.
Hadirnya makalah
ini tidak terlepas dari semua pihak yang telah mendedikasikan baik berupa moral
maupun material kepada penulis. Diantara nya:
1.
Bapak Dr. Syarifudin, M.Ag., selaku dosen pembimbing mata kuliah Filsafat
Ilmu yang telah banyak memdedikasikan baik waktu maupun tenaganya untuk penulis.
2.
Rekan-rekan semua yang telah memberikan motivasinya
untuk bisa menyelesaikan tugas ini.
Akhirnya,
terlepas dari banyaknya kesalahan yang terdapat dalam makalah ini, kami selaku
penulis minta maaf, dan kepada Allah kami mohon ampun. Semoga apa yang kami
lakukan ini dapat memberi manfaat dalam diri penulis pada khususnya dan para pencinta
pengetahuan pada umumnya.
Palangka Raya, Mei 2015
Tim
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP
BAB I
PENDAHULUAN
Pada
diri manusia, Tuhan (Allah) telah memberikan banyak kelebihan dibandingkan
dengan makhluk lainnya. Salah satu yang terpenting adalah akal pikiran.
Sehingga, dengan itu manusia menggunakannya salah satunya untuk mengkaji ilmu
pengetahuan. Berangkat dari ilmu pengetahuan tersebut, manusia berusaha
menemukan kebenaran. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, memerlukan
usaha yang luar biasa. Bahkan tidak jarang sebagian belum mengetahui apa itu
pengetahuan dan ilmu, dari mana sumbernya, macam-macamnya, dan apa sebenarnya
ukuran kebenaran tersebut.
Untuk
itu, makalah yang sederhana ini berusaha menyajikan atas jawaban-jawaban
tersebut. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penulis berharap apa yang ada di
dalam makalah ini tidak ditelan mentah-mentah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang cocok
adalah:
1.
Apa pengertian dan jenis-jenis pengetahuan?
2.
Bagaimana hakikat dan sumber pengetahuan?
3.
Bagaimana klasifikasi dan hierarki ilmu pengetahuan?
4.
Apa ukuran kebenaran?
Dalam penulisan makalah ini, selain bertujuan untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah Filsafat Ilmu, lebih lanjut bertujuan untuk menambah wawasan
keilmuan dan untuk mahasisiwa pada khususnya mengetahui tentang:
1.
Pengertian dan jenis-jenis pengetahuan,
2.
Hakikat dan sumber pengetahuan,
3.
Klasifikasi dan hierarki ilmu pengetahuan, dan
4.
Ukuran kebenaran.
Mengingat
pembahasan yang berkaitan dengan judul begitu luas, sehingga selaku penulis
kami merasa perlunya batasan masalah. Hal ini tidak lain untuk mengarahkan dan
lebih menajamkan bahasan kearah yang semestinya. Adapun yang menjadi batasan
dalam makalah ini adalah yang berkaitan dengan rumusan masalah di atas.
Dalam penulisan makalah ini, metode yang penulis gunakan adalah
kepustakaan sebagai reverensi utama (library search), dan mencari data
di internet sebagai pelengkap (internet search). Artinya, data yang
penulis dapatkan berasal dari buku-buku dan internet yang kemudian penulis
rangkai menjadi sebuah makalah yang lebih mudah untuk dimengerti.
Pengetahuan secara etimologi[1]
berasal dari bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam Enslikopedia Of
Philoshophy dijelaskan bahwa pengetahuan mempunyai arti kepercayaan yang
benar atau knowledge is justified true belief.[2]
Sedangkan menurut terminologi[3]
terdapat beberapa tokoh yang mendefinisikannya, diantaranya Drs.
Sidi Gazalba yang dikutip oleh Amsal Bakhtiar:
“…pengetahuan
adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tesebut
adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu
adalah semua milik atau pikiran dan merupakam hasil proses dari usaha manusia
untuk tahu.”[4]
Dalam kehidupan sehari-hari,
kata “pengetahuan” sering disamakan dengan ilmu, atau bahkan dihubungkan
sekaligus diantara keduanya (baca, ilmu pengetahuan). Sehingga hal itu
menimbulkan kesan bahwa diantara keduanya memang sama. Padahal diantara
keduanya terdapat perbedaan[5].
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa setiap ilmu (science) adalah
pengetahuan (knowledge), namun tidak setiap pengetahuan adalah ilmu.
Ilmu menurut Sondang P. Siagian
dalam Inu Kencana Syafiie menyatakan bahwa suatu obyek ilmiah yang memiliki
sekelompok prinsip, dalil, rumus, yang melalui percobaan sistematis dan
berulang-ulang, dan juga telah teruji kebenarannya.[6]
Sementara itu, menurut Soerjono Soekanto ilmu adalah pengetahuan yang telah
tersusun secara sistematis dengan menggunakan pemikiran, pengetahuan yang mana
dapat diperiksa dan ditelaah oleh setiap orang lain yang mengetahuinya.[7]
Selain itu, Inu Kencana Syafiie
juga mengutip pendapat Taliziduhu Ndraha yang menyatakan ukuran sebuah
pengetahuan untuk bisa menjadi sebuah ilmu “pengetahuan (knowledge) yang
dapat dikenali (identify), dapat diterangkan (explain), dapat
dilukiskan (describe), dapat piperkirakan (predict), dapat
dinalisis (diagnosis), dan dapat diawasi (control).”[8]
Jenis pengetahuan dapat
dibedakan menjadi empat, yaitu:
a.
Pengetahuan
biasa yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan common sense dan
sering diartikan dengan good sense. Karena seseorang memiliki sesuatu dimana
orang itu menerima secara baik. Semua orang menyebutkan sesuatu itu biru dan
benda itu juga dingin karena memang dirasakan dingin dan sebagainya.[9]
b. Pengetahuan
ilmiah yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang
sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Ilmu dapat
merupakan suatu metode berpikir secara obyektif. Tujuannya untuk menggambarkan
dan memberi makna terhadap dunia faktual.[10]
c. Pengetahuan
filsafat yaitu pengetahuan yang diperoleh dari suatu pemikiran spekulatif.
Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian
tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit,
filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya
memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis.[11]
d. Pengetahuan
Agama yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan lewat Rasul-Nya. Pengetahuan
agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan
ini mengandung hal – hal yang pokok yaitu ajaran tentang cara berhubungan
dengan Tuhan dan cara berhubungan dengan sesama manusia. Dan yang lebih penting
dari pengetahuan ini disamping informasi tentang Tuhan juga informasi tentang
hari akhir.[12]
Para penganut realisme mengakui
bahwa seseorang bisa salah lihat pada benda – benda atau dia melihat pengaruh
oleh keadaan sekelilingnya.[13]
Pada dasarnya manusia memiliki rasa keingintahuan. Mengetahui sesuatu adalah
menyusun pendapat tentang suatu obyek, atau dengan kata lain menyusun suatu
gambaran tentang fakta yang ada di luar.[14]
Dari pendapat atau gambaran suatu obyek tersebut, muncul sebuah persoalan,
yaitu apakah hal itu sesuai dengan fakta?apakah hal itu benar?dan lainnya.
Untuk menjawab persoalan semisal dengan itu, Amsal Bakhtiar menyatakan ada dua
teori yang dapat dipergunakan, yaitu:[15]
a. Realisme
Pandangan teori ini adalah
realistis terhadap alam. Pengetahuan menurut teori ini adalah copy paste
yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata. Hal ini tak ubahnya seperti
gambaran foto.[16]
Penganut ajaran (baca, teori) bisa salah lihat pada benda-benda atau dia
melihat terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya.[17]
Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa
kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang
tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk
penolakan terhadap gagasan idealisme dan empirisme.[18]
Menurut Prof. Dr. Rasjidi dalam
Amsal Bakhtiar menyatakan bahwa penganut agama perlu untuk mempelajari realisme
ini. Untuk mendukung pendapatnya tersebut, Prof. Dr. Rasjidi mengemukakan
dua alasan yaitu:
“(1) Dalam menjelaskan kesulitan-kesulitan yang terdapat
dalam alam pikiran. Kesulitan pikiran tersebut adalah pendapat yang mengatakan
bahwa tiap-tiap kejadian dapat diketahui hanya dari segi subjektif. Menurut
Rasjidi, pernyataan itu tidak benar sebab adanya faktor subjektif bukan berarti
menolak faktor objektif… (2) Dengan jalan memberi pertimbangan-pertimbangan
yang positif, menurut Rasjidi, umumnya orang beranggapan bahwa tiap-tiap benda
mempunyai satu sebab…”[19]
b. Idealisme
Ajaran idealisme menegaskan
bahwa untuk mendapatkan kebenaran yang sesuai dengan kenyataan adalah mustahil.
Premis pokok yang diajukan oleh ajaran ini adalah jiwa mempunyai kedudukan
utama, namun itu bukan berarti mengingkari materi yang ada. Hanya saja
menurutnya materi merupakan sesuatu yang tidak pasti dan tidak jelas.[20]
Pada dasarnya, manusia lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa pun.[21]
Seiring dengan perkembangannya, manusia mampu untuk mendapatkan pengetahuan. Lalu
yang menjadi persoalanya “dari mana pengetahuan itu berasal?” untuk menjawab
persoalan yang demikian, ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan.
Yaitu:[22]
a.
Empirisme
Kata empiresme ini berasal dari kata Yunani empeirikos, yang mempunyai
arti pengalaman. Pengalaman yang dimaksud disini adalah pengalaman inderawi.[23]
b.
Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar adri pengetahuan.
Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Namun, aliran ini juga
tidak menafikan pengetahuan inderawi. Sehingga menurut penulis aliran ini
lanjutan dari kelompok ermpirisme.[24]
c.
Intuisi
Intuisi adaalah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang akan
terjadi, seperti menebak dengan benar, tetapi bukan merupakan sebuah tebakan,
karena pikiran atau pengetahuan ini muncul dengan sendirinya, dan juga mirip
dengan meramal, hanya saja meramal bisa di tentukan masalah/objek apa yang
ingin di ketahui, dan hanya orang-orang tertentulah yang memiliki kemampuan
meramal, sedangkan Intuisi tidak begitu, Intuisi muncul dengan sendirinya dan
kemampuan ini di miliki oleh semua orang, hanya kadarnya yang membedakan antara
satu orang dengan orang yang lain.[25] Menurut penulis Intuisi lebih dekat dengan
insting.
d.
Wahyu
Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat
perantara para Nabi. Pengetahuan ini merupakan titik tolak kepercayaan dalam
agama.[26]
Para filosof muslim[28]
membedakan ilmu kepada ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat seperti ilmu fisika, kimia, matematika, gegrafi, ilmu
agama, dan lain-lain. Sementara ilmu yang tidak bermanfaat seperti ilmu sihir.[29]
Klasifikasi yang diberikan oleh Al-Farabi secara filosofi kedalam
beberapa wilayah seperti ilmu-ilmu matematis, ilmu alam, metafisika, ilmu
politik, dan terakhir yurisprudensi dan teologi dialeksis. Beliau memberi
perincian ilmu-ilmu religius (Ilahiyah) dalam bentuk kalam dan fiqih langsung mengikuti
perincian ilmu-ilmu filosofis, yakni matematika, ilmu alam, metafisika dan ilmu
politik.[30]
Sedangkan Al-Ghazali secara filosofi membagi ilmu
ke dalam ilmu syar’iyyah dan ilmu aqliyyah. Oleh Al-Ghazali
ilmu yang terakhir ini disebut juga Quthb ad-Din membedakan jenis ilmu menjadi ulum hikmy
dan ulum ghair hikmy. Ilmu non filosofis menurutnya dipandang sinonim
dengan ilmu religius, karena dia menganggap ilmu itu berkembang dalam satu
peradaban yang memiliki syari’ah (hukum wahyu).[31]
Untuk dapat mengatakan sesuatu itu benar atau salah, maka sudahlah
pasti harus ada ukuran kebenarannya. Para tokoh yang berkompeten di bidang ini
telah menentukan ukuran tersebut, yaitu:
1.
Koherensi, Teori ini
dibangun oleh para pemikir rasional seperti Leibniz, Hegel, dan Bradley. Pada
teori ini suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan tersebut bersifat
koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang sudah
dianggap benar.Secara singkat, paham ini mengatakan bahwa suatu proposisi
cenderung benar jika proposisi tersebut saling berhubungan dengan proposisi –
proposisi lain yang benar atau makna yang dikandungnya dalam keadaan saling
berhubungan dengan pengalaman kita. Artinya suatu proposisi atau makna
pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar apabila proposisi itu
mempunyai hubungan dengan ide – ide dari proposisi yang sebelumnya dianggap
bernilai benar.[32]
2.
Korespondensi, Pada teori
ini, suatu pernyataan dianggap benar apabila materi pengetahuan yang
dikandungnya bersifat berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju.
Teori ini dipelopori oleh pemikir Bertrand Rusell (1872-1970) dan kebenaran
merupakan kesesuaian antara pernyataan mengenai fakta dengan fakta aktual atau
antara putusan dengan situasi seputar yang diberi interpretasi. Jadi dapat
dikatakan bahwa suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu
mempunyai kesesuaian dengan kenyataan yang diketahuinya.[33]
3.
Pragmatis, Teori ini
dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dan kemudian dikembangkan oleh
para ahli filsafat yang berkebangsaan Amerika diantaranya William James
(1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931), dan C.I.
Lewis. Bagi seorang pragmatis mengatkan bahwa kebenaran merupakan suatu
pernyataan yang diukur dengan kriteria dengan tujuan untuk mengetahui
pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau
tidak.Artinya, suatu pernyataan benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan
praktis dalam kehidupan manusia. Jadi menurut teori ini bahwa suatu proposisi
bernilai benar apabila proposisi itu mempunyai konsekuensi–konsekuensi praktis
seprti yang terdapat secara inhern dalam pernyataan tersebut.[34]
Meskipun ada pendapat yang lain
tentang ukuran kebenaran, namun menurut penulis tiga hal di atas lah yang lebih
kuat pendapatnya.
Demikian pembahasan yang dapat penulis uraikan. Dari uraian yang telah
tersebut di muka, dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.
Pengetahuan
adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pengetahuan berbeda dengan
ilmu. Pengetahuan dapat dibedakan menjadi empat, yaiti: (1)biasa,(2)ilmiah, (3)filsafat,
dan(4)agama.
2.
Untuk
menjawab hakikat pengetahuan dapat dijawab dengan dua teori yaitu, realism dan
idealism. Sementara itu, yang menjadi sember pengetahuan adalah: Empirisme, Rasionalisme,
intuisi, dan
wahyu.
3.
Tentang klasifikasi dan hierarki pengetahuan, para
filosof muslim telah membedakan ilmu kepada ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang
tidak bermanfaat.
4.
Sesuatu dapat dikatakan benar dijaka memenuhi salah
satu ukuran kebenaran, yaiti: Koherensi, korespodensi, dan Pragmatis.
Sudah seharusnya kita (muslim) tahu bahwa kita tahu dan belajar ketika
kita tahu bahwa kita tidak tahu, bukannya tidak tahu bahwa kita tahu atau
lebih-lebih tidak tahu bahwa kita tidak tahu.
Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu,
Jakarta: Rajawali Pers, 2013, cet. 12.
Surajiyo, Filsafat Ilmu dan
Perkembangannya Di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.
Syafiie, Inu Kencana, Pengantar
Filsafat, Bandung: Refika Aditama, 2004.
Burhanuddin, Afid, Jenis-jenis
Pengetahuan, https://afidburhanuddin.wordpress.com,
diakses pada tanggal 4 Mei 2015 pukul 14:15.
Cupang, Bang, Klasifikasi Dan
Hierarki Ilmu, https://bangcupang.wordpress.com,
, diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 10:02.
Donisuyanto, Apa Itu Intuisi,
https://bindoni.wordpress.com,
diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 09:32.
Mubaraq, Linda, Filsafat Ilmu
Menurut Aliran Realisme, http://lindamubaraq.blogspot.com,
diakses pada tanggal 5 Mei 2015 pukul 08:32.
[1]Etimologi:
ilmu asal usul kata.
[2]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu,
Jakarta: Rajawali Pers, 2013, cet. 12, h. 85.
[4]Amsal Bakhtiar, Filsafat…,
h. 85.
[5]Catatan: dalam makalah ini,
penulis lebih sering menggunakan istilah pengetahuan dari pada ilmu. Hal itu
tidak lain karena pengetahuan lebih umum jika dibandingkan dengan ilmu.
[6]Inu Kencana Syafiie, Pengantar
Filsafat, Bandung: Refika Aditama, 2004, h. 23.
[7]Ibid.,
[9]Afid Burhanuddin, Jenis-jenis
Pengetahuan, https://afidburhanuddin.wordpress.com, diakses pada tanggal 4 Mei 2015
pukul 14:15.
[10]Ibid.,
[11]Ibid.,
[12]Ibid.,
[13]Ibid.,
[14]Amsal Bakhtiar, Filsafat…,
h. 94.
[18]Linda Mubaraq, Filsafat Ilmu
Menurut Aliran Realisme, http://lindamubaraq.blogspot.com,
diakses pada tanggal 5 Mei 2015 pukul 08:32.
[19]Amsal Bakhtiar, Filsafat…,
h. 95-96.
[21]Penulis sangat setuju jika
dikatakan pada dasarnya manusia tidak tahu (lihat Q.S. An-Nahl ayat 78). Namun
manusia lebih-lebih orang muslim dituntut untuk bias mendapatkan ilmu
pengetahuan (lihat Q.S. Al-Mujadalah ayat 11).
[22]Amsal Bakhtiar, Filsafat…,
h. 98.
[25]Donisuyanto, Apa Itu Intuisi,
https://bindoni.wordpress.com,
diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 09:32.
[26]Amsal Bakhtiar, Filsafat…,
h. 110.
[27]Penulis tidak membagi antara
klasifikasi dan hierarki
pengetahuan kedalam sub pembahasan sendiri-sendiri.hal ini tidak lain karena
para tokoh ketika mengklasifikasi berarti juga telah me-hierarkinya.
[28]Penulis tidak mendapatkan bahan
atau info mengapa hanya filosof muslim yang mengklasifikasi dan
me-hierarki.
[29]Amsal Bakhtiar, Filsafat…,
h. 122.
[30]Bang cupang, Klasifikasi Dan
Hierarki Ilmu, https://bangcupang.wordpress.com,
, diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 10:02.
[31]Bang cupang, Klasifikasi…
[32]Surajiyo, Filsafat Ilmu dan
Perkembangannya Di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2010, h. 105.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar