Selasa, 02 Juni 2015

Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran



Kelompok 7
PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Dosen: Dr. Syarifudin, M.Ag
Disusun oleh:

Achmad Rifa’i
Nim.1402110442



PRODI AHS DAN HESY
JURUSAN SYARI’AH FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA
TAHUN 2015 M/ 1436 H

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam, yang telah menurunkan al-Quran kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril yang ditujukan sebagai pedoman dan juga sumber semua ilmu pengetahuan bagi makhluk-Nya. Allah yang telah memberikan banyak nikmat kepada hamba-Nya dan berjanji akan menambahnya bila mau disyukuri. Dalam rangka mensyukuri nikmatNya itu, kami berusaha menyelesaikan penulisan makalah dengan judul “PENGETAHUAN DAN UKURAN KEBENARAN”. Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan kepada penulis, sehingga makalah yang sederhana ini dapat hadir di tengah-tengah kita.
Hadirnya makalah ini tidak terlepas dari semua pihak yang telah mendedikasikan baik berupa moral maupun material kepada penulis. Diantara nya:
1.      Bapak Dr. Syarifudin, M.Ag.,  selaku dosen pembimbing mata kuliah Filsafat Ilmu yang telah banyak memdedikasikan baik waktu maupun tenaganya untuk  penulis.
2.      Rekan-rekan semua yang telah memberikan motivasinya untuk bisa menyelesaikan tugas ini.
Akhirnya, terlepas dari banyaknya kesalahan yang terdapat dalam makalah ini, kami selaku penulis minta maaf, dan kepada Allah kami mohon ampun. Semoga apa yang kami lakukan ini dapat memberi manfaat dalam diri penulis pada khususnya dan para pencinta pengetahuan pada umumnya.
                                                 
                    Palangka Raya, Mei  2015

                                                                                                    Tim Penulis

DAFTAR ISI

BAB III PENUTUP. 11

BAB I

PENDAHULUAN

Pada diri manusia, Tuhan (Allah) telah memberikan banyak kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Salah satu yang terpenting adalah akal pikiran. Sehingga, dengan itu manusia menggunakannya salah satunya untuk mengkaji ilmu pengetahuan. Berangkat dari ilmu pengetahuan tersebut, manusia berusaha menemukan kebenaran. Namun, untuk mencapai itu semua tidaklah mudah, memerlukan usaha yang luar biasa. Bahkan tidak jarang sebagian belum mengetahui apa itu pengetahuan dan ilmu, dari mana sumbernya, macam-macamnya, dan apa sebenarnya ukuran kebenaran tersebut.
Untuk itu, makalah yang sederhana ini berusaha menyajikan atas jawaban-jawaban tersebut. Akan tetapi, perlu diingat bahwa penulis berharap apa yang ada di dalam makalah ini tidak ditelan mentah-mentah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang cocok adalah:
1.      Apa pengertian dan jenis-jenis pengetahuan?
2.      Bagaimana hakikat dan sumber pengetahuan?
3.      Bagaimana klasifikasi dan hierarki ilmu pengetahuan?
4.      Apa ukuran kebenaran?

Dalam penulisan makalah ini, selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Ilmu, lebih lanjut bertujuan untuk menambah wawasan keilmuan dan untuk mahasisiwa pada khususnya mengetahui tentang:
1.      Pengertian dan jenis-jenis pengetahuan,
2.      Hakikat dan sumber pengetahuan,
3.      Klasifikasi dan hierarki ilmu pengetahuan, dan
4.      Ukuran kebenaran.

Mengingat pembahasan yang berkaitan dengan judul begitu luas, sehingga selaku penulis kami merasa perlunya batasan masalah. Hal ini tidak lain untuk mengarahkan dan lebih menajamkan bahasan kearah yang semestinya. Adapun yang menjadi batasan dalam makalah ini adalah yang berkaitan dengan rumusan masalah di atas.

Dalam penulisan makalah ini, metode yang penulis gunakan adalah kepustakaan sebagai reverensi utama (library search), dan mencari data di internet sebagai pelengkap (internet search). Artinya, data yang penulis dapatkan berasal dari buku-buku dan internet yang kemudian penulis rangkai menjadi sebuah makalah yang lebih mudah untuk dimengerti.

Pengetahuan secara etimologi[1] berasal dari bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam Enslikopedia Of Philoshophy dijelaskan bahwa pengetahuan mempunyai arti kepercayaan yang benar atau knowledge is justified true belief.[2] Sedangkan menurut terminologi[3] terdapat beberapa tokoh yang mendefinisikannya, diantaranya Drs. Sidi Gazalba yang dikutip oleh Amsal Bakhtiar:
“…pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tesebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah semua milik atau pikiran dan merupakam hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.”[4]
Dalam kehidupan sehari-hari, kata “pengetahuan” sering disamakan dengan ilmu, atau bahkan dihubungkan sekaligus diantara keduanya (baca, ilmu pengetahuan). Sehingga hal itu menimbulkan kesan bahwa diantara keduanya memang sama. Padahal diantara keduanya terdapat perbedaan[5]. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa setiap ilmu (science) adalah pengetahuan (knowledge), namun tidak setiap pengetahuan adalah ilmu.
Ilmu menurut Sondang P. Siagian dalam Inu Kencana Syafiie menyatakan bahwa suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus, yang melalui percobaan sistematis dan berulang-ulang, dan juga telah teruji kebenarannya.[6] Sementara itu, menurut Soerjono Soekanto ilmu adalah pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis dengan menggunakan pemikiran, pengetahuan yang mana dapat diperiksa dan ditelaah oleh setiap orang lain yang mengetahuinya.[7]
Selain itu, Inu Kencana Syafiie juga mengutip pendapat Taliziduhu Ndraha yang menyatakan ukuran sebuah pengetahuan untuk bisa menjadi sebuah ilmu “pengetahuan (knowledge) yang dapat dikenali (identify), dapat diterangkan (explain), dapat dilukiskan (describe), dapat piperkirakan (predict), dapat dinalisis (diagnosis), dan dapat diawasi (control).”[8]
Jenis pengetahuan dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
a.    Pengetahuan biasa yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan common sense dan sering diartikan dengan good sense. Karena seseorang memiliki sesuatu dimana orang itu menerima secara baik. Semua orang menyebutkan sesuatu itu biru dan benda itu juga dingin karena memang dirasakan dingin dan sebagainya.[9]
b.    Pengetahuan ilmiah yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam. Ilmu dapat merupakan suatu metode berpikir secara obyektif. Tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual.[10]
c.    Pengetahuan filsafat yaitu pengetahuan yang diperoleh dari suatu pemikiran spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam. Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis.[11]
d.   Pengetahuan Agama yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan lewat Rasul-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan ini mengandung hal – hal yang pokok yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan dan cara berhubungan dengan sesama manusia. Dan yang lebih penting dari pengetahuan ini disamping informasi tentang Tuhan juga informasi tentang hari akhir.[12]
Para penganut realisme mengakui bahwa seseorang bisa salah lihat pada benda – benda atau dia melihat pengaruh oleh keadaan sekelilingnya.[13] Pada dasarnya manusia memiliki rasa keingintahuan. Mengetahui sesuatu adalah menyusun pendapat tentang suatu obyek, atau dengan kata lain menyusun suatu gambaran tentang fakta yang ada di luar.[14] Dari pendapat atau gambaran suatu obyek tersebut, muncul sebuah persoalan, yaitu apakah hal itu sesuai dengan fakta?apakah hal itu benar?dan lainnya. Untuk menjawab persoalan semisal dengan itu, Amsal Bakhtiar menyatakan ada dua teori yang dapat dipergunakan, yaitu:[15]
a.    Realisme
Pandangan teori ini adalah realistis terhadap alam. Pengetahuan menurut teori ini adalah copy paste yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata. Hal ini tak ubahnya seperti gambaran foto.[16] Penganut ajaran (baca, teori) bisa salah lihat pada benda-benda atau dia melihat terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya.[17]
Dalam pemikiran filsafat, realisme berpandangan bahwa kenyataan tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi ataupun gagasan yang tebangun dari dalam. Dengan demikian realisme dapat dikatakan sebagai bentuk penolakan terhadap gagasan idealisme dan empirisme.[18]
Menurut Prof. Dr. Rasjidi dalam Amsal Bakhtiar menyatakan bahwa penganut agama perlu untuk mempelajari realisme ini. Untuk mendukung pendapatnya tersebut, Prof. Dr. Rasjidi mengemukakan dua alasan yaitu:
“(1) Dalam menjelaskan kesulitan-kesulitan yang terdapat dalam alam pikiran. Kesulitan pikiran tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa tiap-tiap kejadian dapat diketahui hanya dari segi subjektif. Menurut Rasjidi, pernyataan itu tidak benar sebab adanya faktor subjektif bukan berarti menolak faktor objektif… (2) Dengan jalan memberi pertimbangan-pertimbangan yang positif, menurut Rasjidi, umumnya orang beranggapan bahwa tiap-tiap benda mempunyai satu sebab…”[19]
b.    Idealisme
Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan kebenaran yang sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Premis pokok yang diajukan oleh ajaran ini adalah jiwa mempunyai kedudukan utama, namun itu bukan berarti mengingkari materi yang ada. Hanya saja menurutnya materi merupakan sesuatu yang tidak pasti dan tidak jelas.[20]
Pada dasarnya, manusia lahir dalam keadaan tidak mengetahui apa pun.[21] Seiring dengan perkembangannya, manusia mampu untuk mendapatkan pengetahuan. Lalu yang menjadi persoalanya “dari mana pengetahuan itu berasal?” untuk menjawab persoalan yang demikian, ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan. Yaitu:[22]
a.    Empirisme
Kata empiresme ini berasal dari kata Yunani empeirikos, yang mempunyai arti pengalaman. Pengalaman yang dimaksud disini adalah pengalaman inderawi.[23]
b.    Rasionalisme
Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar adri pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Namun, aliran ini juga tidak menafikan pengetahuan inderawi. Sehingga menurut penulis aliran ini lanjutan dari kelompok ermpirisme.[24]
c.    Intuisi
Intuisi adaalah kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang akan terjadi, seperti menebak dengan benar, tetapi bukan merupakan sebuah tebakan, karena pikiran atau pengetahuan ini muncul dengan sendirinya, dan juga mirip dengan meramal, hanya saja meramal bisa di tentukan masalah/objek apa yang ingin di ketahui, dan hanya orang-orang tertentulah yang memiliki kemampuan meramal, sedangkan Intuisi tidak begitu, Intuisi muncul dengan sendirinya dan kemampuan ini di miliki oleh semua orang, hanya kadarnya yang membedakan antara satu orang dengan orang yang lain.[25] Menurut penulis Intuisi lebih dekat dengan insting.
d.    Wahyu
Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para Nabi. Pengetahuan ini merupakan titik tolak kepercayaan dalam agama.[26]
Para filosof muslim[28] membedakan ilmu kepada ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat seperti ilmu fisika, kimia, matematika, gegrafi, ilmu agama, dan lain-lain. Sementara ilmu yang tidak bermanfaat seperti ilmu sihir.[29]
Klasifikasi yang diberikan oleh Al-Farabi secara filosofi kedalam beberapa wilayah seperti ilmu-ilmu matematis, ilmu alam, metafisika, ilmu politik, dan terakhir yurisprudensi dan teologi dialeksis. Beliau memberi perincian ilmu-ilmu religius (Ilahiyah) dalam bentuk kalam dan fiqih langsung mengikuti perincian ilmu-ilmu filosofis, yakni matematika, ilmu alam, metafisika dan ilmu politik.[30]
Sedangkan Al-Ghazali secara filosofi membagi ilmu ke dalam ilmu syar’iyyah dan ilmu aqliyyah. Oleh Al-Ghazali ilmu yang terakhir ini disebut juga Quthb ad-Din membedakan jenis ilmu menjadi ulum hikmy dan ulum ghair hikmy. Ilmu non filosofis menurutnya dipandang sinonim dengan ilmu religius, karena dia menganggap ilmu itu berkembang dalam satu peradaban yang memiliki syari’ah (hukum wahyu).[31]
Untuk dapat mengatakan sesuatu itu benar atau salah, maka sudahlah pasti harus ada ukuran kebenarannya. Para tokoh yang berkompeten di bidang ini telah menentukan ukuran tersebut, yaitu:
1.    Koherensi, Teori ini dibangun oleh para pemikir rasional seperti Leibniz, Hegel, dan Bradley. Pada teori ini suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang sudah dianggap benar.Secara singkat, paham ini mengatakan bahwa suatu proposisi cenderung benar jika proposisi tersebut saling berhubungan dengan proposisi – proposisi lain yang benar atau makna yang dikandungnya dalam keadaan saling berhubungan dengan pengalaman kita. Artinya suatu proposisi atau makna pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar apabila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide – ide dari proposisi yang sebelumnya dianggap bernilai benar.[32]
2.    Korespondensi, Pada teori ini, suatu pernyataan dianggap benar apabila materi pengetahuan yang dikandungnya bersifat berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju. Teori ini dipelopori oleh pemikir Bertrand Rusell (1872-1970) dan kebenaran merupakan kesesuaian antara pernyataan mengenai fakta dengan fakta aktual atau antara putusan dengan situasi seputar yang diberi interpretasi. Jadi dapat dikatakan bahwa suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu mempunyai kesesuaian dengan kenyataan yang diketahuinya.[33]
3.    Pragmatis, Teori ini dicetuskan oleh Charles S. Peirce (1839-1914) dan kemudian dikembangkan oleh para ahli filsafat yang berkebangsaan Amerika diantaranya William James (1842-1910), John Dewey (1859-1952), George Hobart Mead (1863-1931), dan C.I. Lewis. Bagi seorang pragmatis mengatkan bahwa kebenaran merupakan suatu pernyataan yang diukur dengan kriteria dengan tujuan untuk mengetahui pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak.Artinya, suatu pernyataan benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Jadi menurut teori ini bahwa suatu proposisi bernilai benar apabila proposisi itu mempunyai konsekuensi–konsekuensi praktis seprti yang terdapat secara inhern dalam pernyataan tersebut.[34]
Meskipun ada pendapat yang lain tentang ukuran kebenaran, namun menurut penulis tiga hal di atas lah yang lebih kuat pendapatnya.

Demikian pembahasan yang dapat penulis uraikan. Dari uraian yang telah tersebut di muka, dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.    Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pengetahuan berbeda dengan ilmu. Pengetahuan dapat dibedakan menjadi empat, yaiti: (1)biasa,(2)ilmiah, (3)filsafat, dan(4)agama.
2.    Untuk menjawab hakikat pengetahuan dapat dijawab dengan dua teori yaitu, realism dan idealism. Sementara itu, yang menjadi sember pengetahuan adalah: Empirisme, Rasionalisme, intuisi, dan wahyu.
3.    Tentang klasifikasi dan hierarki pengetahuan, para filosof muslim telah membedakan ilmu kepada ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang tidak bermanfaat.
4.    Sesuatu dapat dikatakan benar dijaka memenuhi salah satu ukuran kebenaran, yaiti: Koherensi, korespodensi, dan Pragmatis.
Sudah seharusnya kita (muslim) tahu bahwa kita tahu dan belajar ketika kita tahu bahwa kita tidak tahu, bukannya tidak tahu bahwa kita tahu atau lebih-lebih tidak tahu bahwa kita tidak tahu.

Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, cet. 12.

Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya Di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2010.

Syafiie, Inu Kencana, Pengantar Filsafat, Bandung: Refika Aditama, 2004.

Burhanuddin, Afid, Jenis-jenis Pengetahuan, https://afidburhanuddin.wordpress.com, diakses pada tanggal 4 Mei 2015 pukul 14:15.

Cupang, Bang, Klasifikasi Dan Hierarki Ilmu, https://bangcupang.wordpress.com, , diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 10:02.

Donisuyanto, Apa Itu Intuisi, https://bindoni.wordpress.com, diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 09:32.

Mubaraq, Linda, Filsafat Ilmu Menurut Aliran Realisme, http://lindamubaraq.blogspot.com, diakses pada tanggal 5 Mei 2015 pukul 08:32.



[1]Etimologi: ilmu asal usul kata.
[2]Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, cet. 12, h. 85.
[3]Terminologi: pengertian secara istilah.
[4]Amsal Bakhtiar, Filsafat…, h. 85.
[5]Catatan: dalam makalah ini, penulis lebih sering menggunakan istilah pengetahuan dari pada ilmu. Hal itu tidak lain karena pengetahuan lebih umum jika dibandingkan dengan ilmu.
[6]Inu Kencana Syafiie, Pengantar Filsafat, Bandung: Refika Aditama, 2004, h. 23.
[7]Ibid.,
[8]Ibid., h.26.
[9]Afid Burhanuddin, Jenis-jenis Pengetahuan, https://afidburhanuddin.wordpress.com, diakses pada tanggal 4 Mei 2015 pukul 14:15.
[10]Ibid.,
[11]Ibid.,
[12]Ibid.,
[13]Ibid.,
[14]Amsal Bakhtiar, Filsafat…, h. 94.
[15]Ibid., h. 94.
[16]Ibid., h. 94.
[17]Ibid., h. 95.
[18]Linda Mubaraq, Filsafat Ilmu Menurut Aliran Realisme, http://lindamubaraq.blogspot.com, diakses pada tanggal 5 Mei 2015 pukul 08:32.
[19]Amsal Bakhtiar, Filsafat…, h. 95-96.
[20]Ibid., h. 97.
[21]Penulis sangat setuju jika dikatakan pada dasarnya manusia tidak tahu (lihat Q.S. An-Nahl ayat 78). Namun manusia lebih-lebih orang muslim dituntut untuk bias mendapatkan ilmu pengetahuan (lihat Q.S. Al-Mujadalah ayat 11).
[22]Amsal Bakhtiar, Filsafat…, h. 98.
[23]Ibid., h. 98.
[24]Ibid., h. 102.
[25]Donisuyanto, Apa Itu Intuisi, https://bindoni.wordpress.com, diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 09:32.
[26]Amsal Bakhtiar, Filsafat…, h. 110.
[27]Penulis tidak membagi antara klasifikasi dan hierarki pengetahuan kedalam sub pembahasan sendiri-sendiri.hal ini tidak lain karena para tokoh ketika mengklasifikasi berarti juga telah me-hierarkinya.
[28]Penulis tidak mendapatkan bahan atau info mengapa hanya filosof muslim yang mengklasifikasi dan me-hierarki.
[29]Amsal Bakhtiar, Filsafat…, h. 122.
[30]Bang cupang, Klasifikasi Dan Hierarki Ilmu, https://bangcupang.wordpress.com, , diakses pada tanggal 8 Mei 2015 pukul 10:02.
[31]Bang cupang, Klasifikasi…
[32]Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya Di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2010, h. 105.
[33]Ibid., h. 105.
[34]Ibid., h. 106.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar