Makalah kelompok v
HAKIKAT PARAGRAF
Disusun
untuk memenuhi salah satu tugas
Mata
Kuliah: Bahasa Indonesia
Dosen: Dra. Siti Muawanah, M.Pd.I
Disusun
oleh:
Achmad
Rifa'i
1402110442
M.
Hasan Fauzi
1402110445
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA
RAYA
FAKULTAS SYARI'AH
PROGRAM STUDI AL AHWAL AL
SYAKHSHIYYAH
TAHUN 1436 H/ 2015 M
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah
SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik, serta Hidayah-Nya sehingga makalah
ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan
kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW
yang telah banyak memberikan inspirasi kepada penulis sehingga makalah yang
berjudul “Hakikat
Paragraf” dapat hadir di tengah-tengah kita. Kami sadar
bahwa dalam makalah ini terdapat banyak kekurangan, sebagaimana kata pepatah “tiada
gading yang tak retak”, sehingga penulis sangat berharap pembaca dapat
memberikan kritik dan sarannya guna membangun penyempurnaan makalah ini,
sehingga di harapkan dapat menjadi sumber acuan pembelajaran kedepannya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah Bahasa Indonesia, yakni Dra. Siti Muawanah, M.Pd.I atas
ketersediaan menuntun penulis dalam penulisan makalah ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
teman-teman yang telah ikut membantu dalam penyusunan dan pengumpulan data
dalam makalah ini. Tanpa bantuan teman-teman semua tidak mungkin makalah ini
dapat diselesaikan dengan tepat waktu.
Palangka
Raya, Maret 2015
Penulis
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa
berdasarkan penggunaanya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bahasa lisan dan
bahasa tulisan. Bahasa lisan merupakan bahasa yang sering digunakan dalam
keseharian manusia dalam berkomunikasi. Selain bahasa lisan, perlu juga bahasa
tulisan. Bahasa tulisan yang merupakan bahasa kewajiban bagi seseorang yang
ingin menyampaikan idenya dalam sebuah karya tulis terutama dalam dunia
Akademik. Hal ini dapat terlihat dari kewajiban sivitas Akademika yang dituntut
untuk menulis karya ilmiah. Dalam bahasa tulis, tidak dapat dihindarkan dengan
yang namanya paragraf. Paragraf yang merupakan unsur terpenting dalam sebuah
karya tulis. Namun, sebagian dari kita kerap kali kurang memahami dan melupakan
kaidah-kaidah atau hakikat paragraf, sehingga kita jumpai penulisan yang tidak
beraturan atau bahkan bisa jadi berantakan.
Untuk
itu, kami berusaha menyajikan karya tulis ilmiah ini, dengan harapan akan
memberikan wawasan dalam hal hakikat paragraf. sehingga Dari pengetahuan itu
dapat diterapkan dalam menulis sebuah karya tulis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.
Bagaimana
Hakikat Paragraf?
2.
Apa saja
Macam-macam Paragraf?
3.
Apa fungsi
dari Paragraf?
C. Tujuan Penulisan
Dalam
penulisan makalah ini, selain bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa
Indonesia lebih lanjut bertujuan untuk menambah Khazanah keilmuan tentang:
1.
Hakikat
Paragraf
2.
Macam-macam
Paragraf
3.
Fungsi dari
Paragraf
D. Batasan Masalah
Mengingat begitu luasnya materi maupun hal-hal
yang berhubungan dengan rumusan masalah diatas, maka penulis membatasi
pembahasan ini sesuai yang terdapat dalam rumusan masalah. Mengenai hal lain
yang tidak memiliki hubungan dengan hal-hal yang tercantum pada rumusan masalah
diatas tidak penulis uraikan pada makalah ini.
E. Metode Penulisan
Metode
yang penulis gunakan untuk menulis makalah ini adalah pustaka (library)
dan penelusuran internet (internet search). Artinya, data-data yang
penulis dapatkan berasal dari buku-buku dan internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakikat Paragraf
1.
Pengertian
Paragraf
Paragraf atau alinea didefinisikan secara
bermacam-macam, mulai dari yang sederhana hingga yang cukup terperinci.[1]
Paragraf dalam arti sederhana didefinisikan sebagai karangan mini. Dikatakan
sebagai karangan mini karena sesungguhnya segala sesuatu yang lazim terdapat di
dalam karangan atau tulisan, yang sesuia dengan prinsip dan tata aturan dalam
karang-mengarang, terdapat pula dalam sebuah paragraf. Sedangkan dalam arti
terperinci, paragaraf diartikan sebagai suatu bahasa tulis dari beberapa
kalimat. Kalimat-kalimat di dalam paragraf itu harus disusun secar runtut dan
sistematis, sehingga dapat dijelaskan hubungan antara kalimat yang satu dan
kalimat yang lainnya.[2]
Sementara itu, menurut Siti Muawanah
dalam bukunya yang berjudul "Bahan Ajar Bahasa Indonesia Jurusan
Syari'ah" mendefinisikan paragraf sebagai:
"...(1) paragraf adalah karangan
mini. Artinya, semua unsur karangan yang panjang ada dalam paragraf. (2)
Paragraf adalah satuan bahasa tulis yang terdiri beberapa kalimat yang tersusun
secara runtut, logis, dalam satu kesatuan ide yang tersusun secara lengkap,
utuh, dan padu. (3) Paragraf adalah bagian dari suatu karangan yang ten: dari
sejumlah kalimat yang mengungkapkan satuan informasi dengan pikiran utama sebagai pengendalinya dan
pikiran penjelas sebagai pendukung. (4) Paragraf yang terdiri atas stu kalimat
berarti tidak menunjukkan ketuntasan, atau kesempurnaan. Sekalipun tidak
sempurna, paragraf yang terdiri satu kalimat dapat digunakan. Paragraf satu
kalimat ini dapat dipakai sebagai peralihan antarparagraf, sekaligus
memperbesar efek dinamika bahasa. Akan tetapi, sebagai kesatuan gagasan menjadi
suatu bentuk ide yang utuh dan lengkap. Paragraf hendaklah dibangun dengan
sekelompok kalimat yang baling berkaitan dan mengembangkan satu gagasan.”[3]
Dari pengertian-pengertian diatas, dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan paragraf adalah satuan bentuk bahasa
yang umumnya merupakan gabungan dari beberapa kalimat, namun dalam praktiknya
kadang-kadang paragraf hanya terdiri dari satu kalimat. Walupun hal itu memang
dimungkinkan, paragraf yang seperti itu (satu kalimat) kurang ideal jika
ditinjau dari segi komposisi.[4]
Paragraf atau alinea dimaksudkan untuk
memudahkan pengertian dan pemahaman pembaca. Pembaca dapat mengikuti tahap dami
tahap maksud penulis. Hal itu karen setiap alinea mengandung satu gagasan
pokok.[5]
Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraf, yang perlu
diperhatikan adalah adanya kesatuan dan kepaduan. Paragraf dimulai dengan spasi
kira-kira ketukan atau dimulai pada margin kiri tanpa spasi lima ketukan,
tetapi diberi jarak lebih antarparagrafnya.[6]
Untuk ukuran panjang dan pendeknya paragraf tidak dibatasi, paragraf yang
telalu pendek (misalnya 1-3 kalimat) biasanya kurang dikembangakan. Sebaliknya,
paragraf yang terlalu panjang dapat menyababkan kalimat yang terlepas dari
gagasan pokoknya.[7]
2.
Syarat-syarat
Paragraf
Suatu kalimat dapat dikatakan paragraf
jika memenuhi syarat-syarat sebuah paragraf. Mila dalam bukunya yang berjudul
"Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi" mengatakan dua
syarat suatu kalimat dapat disebut paragraf yaitu:
a.
Kesatuan
Sebuah
alinea dikatakan sebuah kesatuan jika seluruh kalimat dalam paragraf hanya
membicarakan satu ide pokok atau gagasan pokok.[8]
Kalimat-kalimat di dalam suatu paragraf disusun secara artinya, tidak ada
penjelasan yang saling bertentangan dengan gagasan pokok.[9]
Jadi, prinsip kesatuan ide atau pikiran ini menjadi sangat penting untuk
menjadikan kostruksi paragraf yang benar-benar efektif dan padu makna.[10]
b.
Kepaduan
(koherensi)
Sebagaimana perlunya kepaduan dalam
kalimat efektif, dalam paragraf atau alinea juga diperlukan. Kepaduan alinea
akan terwujud jika kalimat dalam alinea disusun secara logis. Untuk itu,
repitisi kata (pengulangan kata), frasa dan kata ganti perlu diperhatikan.
Repitisi atau kata pengulangan yang
sering digunakan antara lain: sebaliknya, sesudah itu, akan tetapi,
maka dll.
Dalam bukunya, Djoko Widagdho menambahkan
satu syarat lagi, yaitu perkembangan alinea atau paragraf. Sebagaimana dia
mengatakan:
"...perkembangan alinea harus
dijaga agar jangan sampai mengembang kesuatu arah yang tidak relevan untuk
menjelaskan gagasan pokok. Misalnya alinea dimulai dengan kalimat inti yang
menyebutkan gagasan pokok yang hendak disampaikan. Maka perkembangannya tidak
boleh tidak, harus menjelaskan gagasan pokok tadi dalam kalimat-kalimat
berikutnya, dengan selalu berpegeng pada prinsip kesatuan dan koherensi."[11]
Selanjutnya, Sri Hapsari Wijayanti dkk.
Dalam bukunya "Bahasa Indonesia Penulisan dan Penyajian Karya Ilmiah"
menambahkan tiga syarat lagi suatu kalimat dikatakan paragraf.[12]
Yaitu:
a.
Kelengkapan
Paragraf atau
alinea perlu dikembangkan dengan kalimat-kalimat penjelas yang menunjang
gagasan pokok atau kalimat topik. Maksudnya, jangan dikembangkan atau diperluas
hanya mengulang-ulang gagasan pokok kalimat sebelumnya. Karena itu, penulis
hendaknya menyampaikan informasi secar lengkap agar pembaca mampu memahami
maksud penulis.
b.
Keberurutan
Keberurutan berkaitan dengan bagaimana
informasi ditulis sesuai dengan gaya penulisan mulai yang umum digunakan untuk
menjelaskan gagasan pokok adalah umum ke khusus atau khusus ke umum.
c.
Konsistensi
Sudut Pandang
Cara penulis menempatkan diri dalam
tulisan disebut sebagai sudut pandang. Jika penulis menggunakan sudut pandang
orang pertama maka penulis harus konsisten dengan sudut pandang tersebut.
Dari syarat-syarat sebuah paragraf yang
dikemukakan oleh tokoh-tokoh di atas, dapat disimpulkan bahwa syarat sebuah
kalimat dikatakan paragraf adalah kesatuan, kepaduan, dan konsistensi sudut
pandang. Adapun syarat perkembangan alinea yang dikemukakan oleh Djoko Widagdho
sejatinya sudah masuk dalam syarat koherensi yang dikemukakan Mila dan Sri Hapsari
Wijayanti dkk. Sedangkan syarat kelengkapan bukan menjadi sebuah syarat utama
dalam sebuah kalimat untuk dapat dikatakan paragraf. Untuk syarat keberurutan,
sebenarnya sudah masuk dalam syarat kepaduan atau koherensi.
3.
Unsur-unsur
Paragraf
a.
Gagasan
pokok, gagasan ini merupakan jiwa dari paragraf yang berisi ide dasar masalah
yang dibicarakan.
b.
Kalimat
Topik, merupakan kalimat yang mengandung gagasan pokok di dalam sebuah
paragraf.
c.
Kalimat
penjelas, merupakan kalimat yang menjelaskan atau dikembangkan dari gagasan
pokok.[13]
B. Macam-macam Paragraf
Macam-macam
paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu menurut posisi kalimat topiknya,
menurut sifat isinya, dan menurut fungsinya.
1.
Menurut
posisi kalimat topiknya
a.
Deduktif,
yaitu paragraf yang letak kalimat topiknya di awal paragraf.
b.
Induktif,
yaitu paragraf yang letak kalimat topiknya di akhir paragraf.
c.
Deduktif-induktif,
yaitu pola paragraf yang kalimat utamanya atau topik utama terletak di awal dan
di akhir paragraf. Kalimat pada akhir paragraf umumnya menegaskan kembali
gagasan utama yang terdapat pada awal paragraf .
2.
Menurut sifat
isinya
a.
Paragraf
Persuasif, adalah paragraf atau alinea yang mempromosikan sesuatu dengan cara
mempengarauhi atau mengajak.
b.
Paragraf
Argumentatif, merupakan jenis paragraf atau alinea yang membahas dengan
bukti-bukti atau alasan yang mendukung.
c.
Paragraf
Naratif, adalah paragraf atau alinea yang menggambarkan suatu peristiwa atau
keadaan dalam bentuk cerita.
d.
Paragraf
Deskriptif, yaitu jenis paragaraf yang melukiskan sesuatu.
e.
Paragraf
Ekspositoris, yaitu paragraf yang memaparkan suatu fakta atau kejadian
tertentu.
3.
Menurut
funginya
a.
Paragraf
Pembuka, adalah paragraf yang bertujuan mengutarakan suatu aspek pokok
pembicaraan dalam karangan.
b.
Paragraf
Pengembang, adalah paragraf yang bertujuan mengembangkan topik atau pokok
pembicaraan yang sebelumnya telah dirumuskan dalam paragraf pembuka.
c.
Paragraf
Penutup, merupakan paragraf yang berisi kesimpulan dari suah karangan.
C. Fungsi Paragraf
Selain fungsi Paragraf
berkaitan dengan segi keindahan karangan itu, pembagian per paragraf ini juga memiliki
beberapa fungsi lain, sebagai berikut:
1.
Alat
untuk memudahkan pernbaca memahami jalan pikiran penulisnya
2.
Penanda
bahwa pikiran baru dimulai,
3.
Alat
bagi pengarang untuk mengembangkan jalan pikiran secara sistematis
4.
Dalam
rangka keseluruhan karangan, paragraf dapat berguna bagi pengantar, transisi,
dan penutup.[14]
5.
Mengekspresika
gagasan tertulis dengan memberi bentuk suatu pikiran dan perasaan ke dalam
serangkaian kalimat yang tersusun secara logis dalam kesatuan.[15]
6.
Untuk memisah
bagian uraian, penulis dapat secara jelas memperlihatkan langkah atau gerakan
pikiran dari satu tahap ke tahap lain. Ditinjau dari segi pembaca, hal ini
memudahlan mereka berhenti lebih lama dari perhentian akhir kalimat.[16]
Itulah enam fungsi dari paragraf yang akan
membuat suatu karangan atau karya tulis menjadi lebih baik dan benar sesuai
aturan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demikian
pembahasan tentang hakikat paragraf. Dari uarian-uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa:
1.
Hakikat
Paragraf
a.
paragraf
adalah satuan bentuk bahasa yang umumnya merupakan gabungan dari beberapa
kalimat, namun dalam praktiknya kadang-kadang paragraf hanya terdiri dari satu
kalimat. Walupun hal itu memang dimungkinkan, paragraf yang seperti itu (satu
kalimat) kurang ideal jika ditinjau dari segi komposisi.
b.
syarat-syarat
sebuah paragraf yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh di atas, dapat disimpulkan
bahwa syarat sebuah kalimat dikatakan paragraf adalah kesatuan, kepaduan, dan
konsistensi sudut pandang.
c.
unsur-unsur
paragraf adalah gagasan pokok, topik kalimat dan kalimat penjelas.
2.
Macam-macam
paragraf
a.
Menurut
posisi kalimat topiknya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu induktif, deduktif
dan deduktif-induktif.
b.
Menurut sifat isinya, paragraf dapat dibedakan
menjadi lima, yaitu persuasif, argumentatif, naratif, deskriptif dan
ekspositoris.
c.
Menurut
fungsinya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu pembuaka, penjelas dan penutup.
3.
Salah satu
fungsi paragraf adalah Untuk memisah bagian uraian, penulis dapat secara jelas
memperlihatkan langkah atau gerakan pikiran dari satu tahap ke tahap lain.
Ditinjau dari segi pembaca, hal ini memudahlan mereka berhenti lebih lama dari
perhentian akhir kalimat.
B. Saran
Dari pembahasan hakikat paragraf dalam makalah ini, kami selaku penulis
berharap hal ini dapat diterapkan dalam menulis sebuah karya tulis. Kami selaku
penulis juga menyadari dalam pembahsan maupun penulisan terdapat banyak
kesalahan, sehingga kritik dan saran sangat kami harapkan dari semuanya. Semoga
karya yang sederhana ini dapat bermanfaat khususnya bagi diri penulis dan bagi
para pecinta ilmu pengetahuan pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
R.
Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta:
Erlangga, 2009, h. 101.
Siti
Muawanah, Bahan Ajar Bahasa Indonesia jurusan Syariah, Palangka Raya:
STAIN, 2012, h. 122.
Mila,
Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Yogyakarta: Kanwa
Publisher, 2011, h. 87.
Djoko
Widagdho, Bahasa Indinesia: Pengantar Kemahiran Berbahasa diperguruan
Tinggi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1997, h. 83.
Sri
Hapsari Wijayanti, dkk., Bahasa Indonesia: Penulisan dan Penyajian Karya
Ilmiah, Jakarata: Rajawali Pers, 2013, h. 97.
B. Internet
Anonim,
Makalah Tentang Paragraf, wordPress.com, diakses pada tanggal 05 Maret 2015 pukul
10:00 WIB.
Alex
dan Ahmad H. P., Bahasa Indonesia unuk Perguruan Tinggi, Jakarta:
Kencana, 2011, h. 209.
Anonim,
Fungsi dan Tujuan Paragraf, http://dewanku02.blogspot.com, diakses pada tanggal 06 Maret 2015
pukul 10:19 WIB.
[1]R. Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Jakarta:
Erlangga, 2009, h. 101.
[3]Siti Muawanah, Bahan Ajar Bahasa Indonesia jurusan Syariah, Palangka
Raya: STAIN, 2012, h. 122.
[4]Mila, Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, Yogyakarta:
Kanwa Publisher, 2011, h. 87.
[5]Djoko Widagdho, Bahasa Indinesia: Pengantar Kemahiran Berbahasa
diperguruan Tinggi, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1997, h. 83.
[6]Sri Hapsari Wijayanti, dkk., Bahasa Indonesia: Penulisan dan
Penyajian Karya Ilmiah, Jakarata: Rajawali Pers, 2013, h. 97.
[8]Mila, Pembelajaran Bahasa Indonesia..., h. 90.
[9]Sri Hapsari Wijayanti, dkk., Bahasa Indonesia: Penulisan..., h.
98.
[10]R. Kunjana Rahardi, Bahasa Indonesia untuk..., h. 117.
[11]Djoko Widagdho, Bahasa Indonesia: Pengantar..., h. 87.
[12]Sri Hapsari Wijayanti, dkk., Bahasa Indonesia: Penulisan..., h.
100-101.
[14]Anonim, Makalah Tentang Paragraf, wordPress.com, diakses pada tanggal 05 Maret
2015 pukul 10:00 WIB.
[15]Alex dan Ahmad H. P., Bahasa Indonesia unuk Perguruan Tinggi, Jakarta:
Kencana, 2011, h. 209.
[16]Anonim, Fungsi dan Tujuan Paragraf, http://dewanku02.blogspot.com, diakses
pada tanggal 06 Maret 2015 pukul 10:19 WIB.